GTK - Di sejumlah ruang kelas PAUD dan RA di Kudus, pembelajaran sains, teknologi, rekayasa, dan matematika tidak dimulai dengan komputer canggih atau alat laboratorium modern. Sebaliknya, pembelajaran lahir dari benda-benda yang sering dianggap tidak bernilai, seperti kardus bekas, tutup botol, gelas plastik, batu, dan berbagai material sederhana yang ada di sekitar lingkungan sekolah.
Pendekatan inilah yang menjadi salah satu kekuatan Program STEM Nasional. Guru diberi ruang untuk mengembangkan kreativitas dan membangun pengalaman belajar yang dekat dengan kehidupan peserta didik.
Di RA Miftahul Falah Dawe, Kudus, guru bernama Fitria Anggraeni mengajak anak-anak membuat miniatur sekolah dari kardus bekas. Kegiatan sederhana itu ternyata mengandung konsep STEM yang lengkap.
"Untuk teknologinya, bagaimana kardus itu bisa kita gunakan untuk membuat bangunan sekolah. Engineering-nya bagaimana bangunan itu agar tidak roboh. Untuk matematikanya, anak-anak bisa mengambil ukuran dan menghitung berapa kardus yang digunakan," ungkap Fitria Anggraeni.
Pengalaman tersebut membuatnya menyadari bahwa banyak praktik pembelajaran yang selama ini dilakukan guru sebenarnya sudah mengandung unsur STEM, meskipun belum diberi label khusus.
"Alhamdulillah, sebenarnya sudah banyak kita terapkan dalam pembelajaran, hanya belum tahu bahwa itu namanya STEM," tuturnya.
Fitria meyakini bahwa anak-anak perlu diberikan ruang untuk bereksperimen, mencoba, dan menemukan sendiri berbagai kemungkinan dari benda-benda yang mereka temui setiap hari.
"Anak-anak itu harus dibekali kegiatan untuk mencoba, memadukan pembelajaran dengan teknologi, dan juga matematika, karena pengetahuan tentang STEM itu diperlukan di masa depan. Mari kita terus semangat belajar mengasah kemampuan dan saling menginspirasi bertukar pengalaman mengajar untuk memperkaya wawasan dan mencetak generasi unggul," ujarnya.
Semangat yang sama juga terlihat di RA Miftahul Huda 1 Dawe. Guru Syafaatun Nimah mengaku sering terkejut oleh cara berpikir peserta didiknya yang penuh kejutan.
"Tak jarang saya takjub dengan reaksi dan umpan balik yang diberikan anak-anak. Sebab, sering kali justru saya belajar dari mereka. Ruang interaksi antara guru dan murid membuat saya belajar hal baru dan terpacu untuk menjadi pengajar yang lebih baik lagi untuk anak-anak," ungkap Syafaatun Nimah.
Sementara itu, di PAUD Terpadu Kalirejo, anak-anak diajak membuat miniatur Menara Kudus menggunakan gelas plastik sebagai struktur penyangga bangunan. Melalui kegiatan tersebut, mereka belajar tentang bentuk, keseimbangan, hingga konsep berhitung tanpa merasa sedang belajar teori.
"Anak-anak tahu kenapa harus pakai gelas untuk membuat tiang, karena mereka tahu gelas ini bisa berdiri. Kemudian mereka menghitung, tadi ada enam tingkatan atau susunan dari bawah ke atas," jelas Kepala PAUD Terpadu Kalirejo, Sumiyati.
Menurutnya, pembelajaran menjadi jauh lebih menyenangkan ketika anak diberi kebebasan bereksplorasi.
"Anak-anak semakin happy dan menikmati. Dengan alat dan benda yang kami siapkan, mereka lebih banyak bereksplorasi," ujarnya.
Ia juga menilai bahwa STEM sejatinya tidak terpisah dari pendekatan pembelajaran yang selama ini telah berkembang di berbagai satuan pendidikan.
"Sebetulnya kita semua sudah melakukan, tetapi belum kita munculkan bahwa itu STEM. Dari inkuiri, berpikir komputasional, hingga Kurikulum Merdeka, semuanya bisa diintegrasikan ke STEM," kata Sumiyati.
Melalui pengalaman-pengalaman sederhana tersebut, terlihat bahwa inovasi pendidikan tidak selalu bergantung pada fasilitas mahal. Yang lebih penting adalah kreativitas guru dalam mengubah benda biasa menjadi sarana belajar yang luar biasa.