GTK - Bagi anak usia dini, belajar tidak selalu harus dimulai dari lembar pelajaran, angka di papan, atau huruf yang dihafalkan berulang-ulang. Kadang, pembelajaran justru tumbuh dari sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan mereka, yakni bermain, mengamati, bertanya, mencoba, sampai berpura-pura menjadi kasir dan pembeli di sebuah minimarket.
Pengalaman itulah yang dihadirkan Ika Pramastuti, guru TK Denpasar Children Center, setelah mengikuti program pelatihan Pembelajaran Mendalam yang diselenggarakan oleh Balai Guru dan Tenaga Kependidikan (BGTK) Provinsi Bali.
Bagi Ika, mengikuti pelatihan bukan hanya menambah pengetahuan tentang metode pembelajaran. Tetapi juga menjadi ruang untuk kembali melihat kebutuhan murid dengan perspektif yang lebih utuh.
“Saya ingin menjadi guru yang dapat memfasilitasi kebutuhan belajar murid saya yang beragam dengan cara yang benar sesuai dengan tahap perkembangan anak,” ungkap Ika.
Keinginan tersebut berangkat dari satu keyakinan sederhana bahwa setiap murid datang ke kelas dengan latar belakang, kebutuhan, pengalaman, dan cara belajar yang berbeda. Karena itu, pembelajaran pun perlu memberi ruang agar murid dapat terlibat secara aktif.
Memahami Konsep dan Konteks
Ika merasa materi dalam pelatihan Pembelajaran Mendalam mudah dipahami karena disusun secara bertahap, terstruktur, dan jelas. Namun, yang paling penting baginya adalah bagaimana materi tersebut tidak berhenti sebagai teori.
Pembelajaran Mendalam membawanya pada pemahaman bahwa anak perlu mengalami sendiri proses belajar melalui pengalaman langsung, eksplorasi media yang kontekstual, serta pengamatan yang dilakukan secara bertahap.
Dalam praktiknya, prinsip tersebut sejalan dengan konsep pembelajaran yang berkesadaran (mindful), bermakna (meaningful), dan menggembirakan (joyful).
“Menurut saya pelatihan ini sangat sesuai karena Pembelajaran Mendalam mengajarkan murid untuk memahami konsep dengan melibatkannya secara langsung melalui pembelajaran kontekstual dengan berkesadaran, bermakna dan menggembirakan,” jelasnya.
Bagi Ika, pendekatan tersebut menjadi semakin relevan ketika diterapkan pada anak usia dini. Sebab, dunia anak memang dekat dengan bermain dan pengalaman konkret. Ketika pembelajaran berangkat dari sesuatu yang mereka kenal, anak lebih mudah menghubungkan apa yang dipelajari dengan kehidupan sehari-hari.
Dari sanalah pembelajaran tidak lagi hanya menjadi kegiatan di dalam kelas, tetapi menjadi pengalaman yang memiliki makna.
Bermain Sambil Belajar dengan “Minimarket Impianku”
Salah satu praktik yang dilakukan Ika adalah pembelajaran numerasi dan literasi dasar berbasis proyek melalui main peran dan pemanfaatan loose parts atau benda-benda nyata yang mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Proyek tersebut diberi nama “Minimarket Impianku.”
Ide minimarket tidak hadir begitu saja. Anak-anak bersama orang tua diajak mengumpulkan berbagai kemasan bekas yang ada di rumah, seperti kemasan makanan, botol minuman, sabun, sampo, mainan bekas, dan berbagai benda lainnya.
Benda-benda yang bagi orang dewasa mungkin terlihat sederhana dan tidak lagi terpakai, di tangan anak-anak berubah menjadi bahan belajar yang kaya akan kemungkinan.
Kemasan makanan menjadi barang dagangan. Botol minuman menjadi komoditas yang bisa dipilih. Ada anak yang berperan sebagai kasir, ada yang menjadi pembeli. Mereka belajar mengenal angka, menghitung, berkomunikasi, membuat pilihan, sekaligus memahami situasi sosial yang mereka jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Di sinilah batas antara bermain dan belajar menjadi semakin tipis.
Anak tidak merasa sedang “diajari” numerasi ketika mereka menghitung barang belanjaan. Mereka juga tidak merasa sedang berlatih literasi ketika berkomunikasi sebagai penjual dan pembeli. Mereka sedang bermain, tetapi dalam permainan itu berbagai kemampuan tumbuh secara alami.
Anak Bukan Lagi Pendengar Pasif
Hal baru yang dirasakan Ika dalam penerapan Pembelajaran Mendalam adalah adanya alur eksplorasi yang mendorong anak bergerak dari mengamati, meniru, melakukan inovasi, hingga mampu berkreasi dan mengembangkan ide.
Proses tersebut kemudian dipadukan dengan penggunaan media interaktif, termasuk papan interaktif digital (Interactive Flat Panel).
Perpaduan antara benda nyata dan media interaktif membuat pengalaman belajar menjadi lebih kaya. Anak tidak hanya melihat atau mendengar penjelasan guru, tetapi diberi kesempatan untuk mencoba, menemukan, dan mengambil keputusan. Bahkan ketika muncul persoalan dalam permainan “Minimarket Impianku”, anak didorong untuk mencari solusinya sendiri.
“Anak tidak lagi menjadi pendengar pasif, melainkan secara aktif dapat menemukan solusi ketika mereka menemui masalah seperti saat bertransaksi di Minimarket Impianku,” kata Ika.
Bagi seorang guru, perubahan semacam ini menjadi pengalaman yang berharga. Sebab, terkadang yang dibutuhkan anak bukanlah jawaban yang langsung diberikan, melainkan kesempatan untuk menemukan jawabannya sendiri.
Kelas yang Lebih Hidup, Guru yang Lebih Peka
Perubahan pun mulai terasa dalam keseharian kelas. Anak-anak menjadi lebih antusias. Mereka lebih aktif bertanya, lebih berani menyampaikan ide, dan mampu mempertahankan fokus lebih lama ketika terlibat dalam kegiatan bermain-belajar.
Namun, menurut Ika, dampak pembelajaran tidak hanya terlihat pada anak. Dirinya sebagai guru juga mengalami perubahan. Ia merasa menjadi lebih peka dalam memahami dan memfasilitasi kebutuhan anak yang beragam. Ia juga terdorong untuk lebih kreatif dalam menyusun kegiatan yang bermakna, menjadi motivator yang lebih baik, dan pada akhirnya semakin bersemangat dalam mengajar.
“Suasana belajar menjadi lebih dinamis, interaktif, dan penuh rasa ingin tahu. Yang paling penting, belajar-mengajar secara keseluruhan menjadi lebih happy,” tuturnya.
Kalimat tersebut terdengar sederhana, tetapi menyimpan makna yang penting. Dalam pendidikan anak usia dini, rasa bahagia bukan sesuatu yang berada di luar proses belajar. Justru, suasana yang menyenangkan dapat menjadi pintu masuk bagi rasa ingin tahu, keberanian mencoba, dan kemauan anak untuk terus belajar.
Tantangan untuk Terus Bertumbuh
Tentu, menerapkan pendekatan baru bukan berarti tanpa tantangan. Bagi Ika, salah satu kendala yang masih dihadapi adalah manajemen waktu, terutama ketika harus menyusun modul ajar yang benar-benar kontekstual. Selain itu, menyediakan media pembelajaran yang beragam juga membutuhkan adaptasi dan kreativitas.
Namun, tantangan tersebut tidak membuat proses berhenti. Ika melihat pentingnya dukungan dari lingkungan sekolah, khususnya melalui kolaborasi dengan rekan sejawat dalam komunitas belajar. Dukungan sarana dan prasarana, terutama untuk menunjang penggunaan media interaktif di kelas, juga menjadi bagian penting dalam keberlanjutan praktik pembelajaran.
Baginya, guru tidak harus berjalan sendirian dalam melakukan perubahan. Berbagi ide, berdiskusi, mengamati praktik rekan lain, dan saling memberi masukan dapat menjadi cara sederhana tetapi bermakna untuk terus bertumbuh.
Tiga Bulan yang Tidak Berhenti pada Teori
Ika menilai program pelatihan Pembelajaran Mendalam yang berlangsung selama tiga bulan sangat memuaskan.
Durasi tersebut, menurutnya, memberikan waktu yang cukup bagi guru untuk tidak hanya memahami teori, tetapi juga mempraktikkannya dan melakukan evaluasi secara berkala.
Pengalaman tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa perubahan dalam pembelajaran membutuhkan proses. Guru perlu waktu untuk memahami, mencoba, merefleksikan, lalu memperbaiki praktiknya.
Karena itu, Ika berharap ke depan semakin banyak ruang untuk berbagi praktik baik atau peer sharing antar guru PAUD dari berbagai daerah. “Perbanyak sesi berbagi praktik baik antar guru PAUD dari berbagai daerah agar referensi ide kegiatan semakin kaya,” sarannya.
Harapan tersebut menjadi penting karena setiap sekolah memiliki konteks yang berbeda. Apa yang berhasil dilakukan seorang guru di satu daerah bisa menjadi inspirasi bagi guru lain untuk mengembangkan praktik yang sesuai dengan kondisi sekolah dan kebutuhan anak-anaknya.
Mengajar dengan Hati, Bertumbuh Bersama Anak
Pada akhirnya, perjalanan Ika mengikuti pelatihan Pembelajaran Mendalam bukan hanya tentang sebuah metode atau model pembelajaran. Ada perubahan cara pandang yang tumbuh di dalamnya bahwa guru perlu terus belajar agar mampu menghadirkan pengalaman belajar yang lebih sesuai dengan dunia anak.
“Ketika kita mengajar dengan hati dan pemahaman yang mendalam, anak-anak akan bertumbuh menjadi pembelajar sepanjang hayat.”
Pesan Ika tersebut terasa relevan bukan hanya bagi guru PAUD, tetapi bagi siapa pun yang bekerja bersama anak-anak. Masa usia dini adalah fondasi. Pada fase inilah rasa ingin tahu, keberanian mencoba, kemampuan berinteraksi, dan kegembiraan dalam belajar mulai dibangun.
Karena itu, selain membuat anak mengetahui lebih banyak hal. Guru juga memiliki peran untuk menjaga agar anak tetap memiliki rasa ingin tahu terhadap dunia.
Di ruang kelas Ika, sebuah minimarket sederhana dari kemasan bekas mungkin tampak seperti permainan biasa. Namun di balik aktivitas membeli dan menjual, ada anak-anak yang sedang belajar menghitung, berkomunikasi, memecahkan masalah, membuat keputusan, bekerja sama, dan berani menyampaikan gagasan.
Dan mungkin, di situlah makna pembelajaran mendalam menemukan bentuknya yang paling sederhana, yakni ketika anak tidak hanya mengetahui sesuatu, tetapi mengalami, memahami, menikmati, dan menemukan makna dari apa yang mereka pelajari.
Sebab pendidikan yang baik tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Terkadang, ia cukup dimulai dari seorang guru yang mau membuka diri untuk belajar kembali, sebuah kelas yang diberi ruang untuk menjadi hidup, dan anak-anak yang diberi kesempatan untuk menemukan dunia dengan caranya sendiri.