Penerapan STEAM (sains technology, engineering, art & mathematics) bagi pendidikan anak usia dini mengajarkan pola pikir yang berfokus pada keingintahuan, pemecahan masalah, dan kreativitas melalui kegiatan bermain anak-anak. Pendekatan pembelajaran itu disesuaikan dengan minat anak yang berbasis proyek guna mengasah keterampilan mereka. Oleh sebab itulah, peran guru sebagai pendamping anak-anak sangat penting guna memberikan arahan dan dukungan, bukan sebatas pemberi materi.

Menurut Kasubdit Direktorat Guru PAUD dan PNF, Efrini, STEAM sering kali dianggap dapat diterapkan bila memiliki alat canggih dan biaya yang besar. “Namun, sejatinya STEAM amatlah mudah dan menggembirakan bagi anak-anak yang diterapkan melalui bermain, eksplorasi, dan juga bertanya,’ ungkapnya saat gelaran webinar Selasa Seru bertema “Menerapkan STEAM yang Mudah dan Menyenangkan di PAUD” di Jakarta (25/11).

Efrini pun menjelaskan bahwa pendekatan STEAM dapat mengembangkan potensi anak-anak, mulai dari kreativitas dan imajinasi, melatih problem solving, mendorong komunikasi dan kolaborasi, hingga menguatkan literasi dan numerasi tahap awal perkembangan anak.

Selain itu, “Semua kegiatan yang menerapkan STEAM dapat dilaksanakan di pendidikan anak usia dini (PAUD) tanpa biaya, tentunya sesuai dengan perkembangan anak,” tuturnya.

Narasumber Mirawati dari Universitas Pendidikan Indonesia menjelaskan bahwa STEAM adalah pelajaran yang mengintegrasikan 5 bidang (sains, technology, engineering, art & mathematics). “Meski dalam ranah PAUD terbilang kompleks, namun STEAM tetap dikemas melalui pembelajaran bagi anak-anak secara menyenangkan yang menerapkan sistem pembelajaran PAUD,” ungkapnya.

Mengapa STEAM perlu dikenalkan sejak PAUD? Selain PAUD sendiri merupakan fondasi bagi bekal anak melangkah ke jenjang berikutnya, tambah Mirawati, STEAM dikembangkan guna memberikan stimulus bagi anak dalam melakukan aktivitasnya. “Jadi, anak diberi informasi yang baru dengan cara sederhana,” ujarnya.

STEAM memang harus terintegrasi. Intinya, seluruh komponen tersebut harus ada, meski tidak harus dipaksakan dalam satu kali kegiatan.

“Prinsip penerapan STEAM haruslah berbasis kebutuhan dan minat anak melalui bermain, satu sama lain berkaitan, serta guru bertindak sebagai fasilitator,” terang Mirawati.

Mirawati menyebutkan bahwa guru dapat menerapkan STEAM melalui kegiatan eksplorasi, misalnya melalui lingkungan yang kemudian diterapkan dalam metode pembelajaran. “Tidak perlu khawatir STEAM sulit dijangkau. Jangan hanya anak yang mengamati, namun guru juga harus mengamati apa yang menjadi minat anak-anak. Amati juga sumber daya yang ada di sekolah,” bebernya.

Miskonsepsi STEAM yang terkesan sulit dilakukan harus dihilangkan karena dapat membuat guru itu sendri menjadi sulit tergerak. “Guru harus berkenalan dulu dengan STEAM, bagaimana membekali anak dengan dunianya dengan mengamati dan mengobrol. Teknologi harus diubah sebagai alat yang memudahkan. Sentuh imajinasi anak, gali apa yang diinginkan anak,” terangnya.

Mirawati pun memberikan tips agar STEAM mudah dilakukan, misalnya dengan memilih topik terkait sumber daya sekitar, serta menggunakan alat dan bahan di lingkungan sekitar yang aman digunakan anak-anak. “Yang sulit adalah menggugah diri untuk mencari tahu STEAM sebelumnya,” tuturnya.

Narasumber lainnya, Desiana Dini Mardila dari TK Eksperimental Mangunan, mengungkapkan bahwa sebenarnya anak-anak telah melakukan aktivitas STEAM dalam proses pembelajaran sehari-hari. “Kami ajak anak-anak beraktivitas yang dekat dengan kehidupan mereka,” ujarnya.

Meski, tambah Dila, sering kali memang tidak dapat dilakukan selama satu hari untuk mengintegrasikan semua komponen STEAM. Karenanya, penerapan STEAM tersebut dapat diterapkan dalam satu model ajar.

“STEAM harus disesuaikan dengan tujuan pembelajaran, lalu dikembangkan sesuai dengan aktivitas dan kebutuhan anak sesuai sumber daya yang dimiliki sekolah. Jadi, anak-anak akan senang dan mereka terlihat aktif melalui indrawinya, semisal tangan untuk meraba,” terangnya.

Menurut Dila, anak-anak pun amat antusias melakukan kegiatan STEAM karena bukan sekadar menonton, melainkan ikut terlibat. “Guru pun dapat merefleksikan langsung kegiatan anak-anak,” jelasnya.

Menurut Dila, kunci penerapan STEAM adalah melalui persiapan yang matang oleh guru, sehingga mereka harus dapat melaksanakan STEAM dengan baik. “Apa yang mau dicapai, alat dan bahan harus disiapkan dengan baik, serta perkuat komunikasi antarguru,” terangnya.

Tantangan penerapan STEAM, tambah Dila, berasal dari miskonsepsi karena belum tahu pelaksanaan seperti apa. Oleh karena itulah, guru harus lebih banyak belajar. “Selain itu, perlu adanya kesepakatan guru bersama anak-anak di kelas. Guru dapat memberikan contoh dan memakai bahan yang ramah lingkungan. Kita harus percaya kepada anak-anak dapat membuat kesepakatan dan melaksanakannya,” ungkapnya.

Sebagai guru, Dila juga memberikan rekomendasi kepada orang tua melalui rapor siswa agar STEAM dapat dikembangkan di rumah, misalnya orang tua mengajak anaknya dalam kegiatan memasak atau mengajak anak menyiram tanaman. “Berikan kesempatan anak untuk bertanya juga di rumahnya,” ujarnya.

Menurut Dila, penerapan STEAM tidak ada yang sulit dilakukan bila sesuai dengan perencanaan dan tujuan pembelajaran. “Misalnya mencari sebab banjir. Kami mengajak anak-anak menggali tanah, membuat aliran air, sehingga anak-anak dapat memaknai sebab banjir akibat aliran tersumbat sampah,” pungkasnya.