Jakarta, 18 Agustus 2026 – Balai Guru dan Tenaga Kependidikan (BGTK) DKI Jakarta bersama Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta memperkuat upaya peningkatan mutu guru melalui Program Asesmen Kompetensi Guru (Askom) Provinsi DKI Jakarta Tahun 2026. Program ini diluncurkan sebagai langkah strategis untuk memperoleh gambaran kompetensi guru secara lebih terukur sekaligus menjadi dasar dalam merancang pengembangan kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan di lapangan.

Penguatan pelaksanaan program dilakukan melalui Peluncuran Pekan Asesmen Kompetensi Guru Jakarta pada 18 Agustus 2026 di Gedung HB Yassin BGTK DKI Jakarta. Kegiatan tersebut  juga menjadi ruang untuk menyamakan pemahaman mengenai kebijakan, mekanisme, instrumen, serta pemanfaatan hasil asesmen antara BGTK DKI Jakarta, Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta, kepala sekolah, dan guru sasaran.

Mewakili Kepala Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta,  Aif Sasmita Kepala Seksi Pengembangan Karier menyampaikan apresiasi atas inisiatif BGTK DKI Jakarta dalam menyelenggarakan Askom sebagai bagian dari upaya memperkuat pemetaan kompetensi guru di DKI Jakarta.

“Kami menyampaikan apresiasi kepada BGTK DKI Jakarta yang telah menginisiasi dan melaksanakan Asesmen Kompetensi Guru. Program ini sangat penting karena sebagai dasar dalam memberikan gambaran tentang peta jalan pengembangan kompetensi berkelanjutan bagi guru dan kepala sekolah di Jakarta. Pada tahap satu, kegiatan ini akan melibatkan  491 sekolah dan 2.234 guru dari jenjang TK hingga SMA,” ujar Alif.

Ia juga mengajak kepada kepala sekolah dan guru untuk mengikuti pekan Askom ini dengan jujur, terbuka, dan tanpa khawatir berlebihan. Kepada Kepala Suku Dinas Pendidikan, Kepala Dinas Pendidikan meminta untuk memastikan dukungan penuh, kemudahan akses, dan pendampingan kepada sekolah-sekolah di lingkungannya.

Sementara itu Kepala BGTK DKI Jakarta, Erfan Agus Munif, menyampaikan bahwa asesmen kompetensi guru merupakan langkah awal dalam membangun sistem pengembangan profesional guru yang berbasis data.

Penerapan asesmen ini merupakan dasar untuk membuat Peta Jalan Pengembangan Kompetensi Guru di Jakarta tahun 2027-2032. Peta jalan ini akan berisi tentang data kebutuhan dan kondisi kompetensi guru. Dengan mengetahui tingkat kompetensi mereka, akan mudah bagi kita untuk menentukan jenis intervensi yang perlu dilakukan

“Setelah adanya peta jalan, kita juga perlu melakukan konsolidasi data, termasuk pola pengembangan kompetensi yang bertitik tolak dari satuan pendidikan. Dari konsolidasi ini, kita bisa mengetahui seberapa banyak peningkatan kompetensi atau pelatihan yang sudah diikuti oleh guru tersebut. Baik pelatihan yang diadakan oleh Kemendikdasmen, sekolah, maupun pihak swasta. Peta jalan akan menjadi koridor bersama. Bagi siapapun yang ingin mengembangkan kompetensi guru, bisa mengikuti peta jalan yang sudah ada,” kata Efran. 

Pada tahap awal, program Askom Guru DKI Jakarta memetakan tiga aspek kompetensi guru, yaitu pedagogik, profesional, dan sosial. Kompetensi pedagogik berkaitan dengan kemampuan guru dalam merancang dan mengelola pembelajaran. Kompetensi profesional mengukur penguasaan materi dan substansi bidang ilmu yang diajarkan. Sementara kompetensi sosial berkaitan dengan kemampuan guru dalam berinteraksi dan berkomunikasi dengan murid, rekan sejawat, serta masyarakat.

Ketiga aspek tersebut menjadi bagian penting dalam mendukung guru agar mampu menghadirkan pembelajaran yang berkualitas, relevan, dan berpusat pada kebutuhan murid.

Pemetaan yang baik akan memberikan gambaran mengenai kekuatan sekaligus area kompetensi yang masih perlu dikembangkan. Karena itu, asesmen perlu dipandang sebagai bagian dari proses pengembangan profesional guru, bukan sekadar kegiatan penilaian.

Hasil Asesmen Menjadi Dasar Pengembangan Guru

BGTK DKI Jakarta menegaskan bahwa hasil Askom nantinya tidak berhenti pada pemetaan. Data yang diperoleh akan dianalisis dan diagregasi untuk menjadi dasar dalam merancang program peningkatan kompetensi guru.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Tim Pemetaan dan Evaluasi BGTK DKI Jakarta, Widiatmoko dalam laporannya menekankan pentingnya memastikan hasil asesmen dapat ditindaklanjuti.

“Yang paling penting bukan hanya bagaimana kita melakukan asesmen, tetapi bagaimana hasil asesmen tersebut dimanfaatkan. Data kompetensi harus diterjemahkan menjadi program pengembangan guru yang relevan dengan kebutuhan mereka, sehingga pada akhirnya berdampak pada peningkatan kualitas pembelajaran,” jelas Widiatmoko.

Dengan demikian, Askom diharapkan menjadi bagian dari siklus pengembangan kompetensi guru yang berkelanjutan, mulai dari pemetaan, analisis kebutuhan, pengembangan kompetensi, pendampingan, hingga peningkatan kualitas pembelajaran.

Dilaksanakan secara Bertahap

Pelaksanaan Askom dilakukan secara bertahap untuk memastikan kesiapan satuan pendidikan, guru, sistem, serta perangkat pendukung asesmen. Pada tahap pertama, BGTK DKI Jakarta juga menyiapkan supervisi dan pendampingan selama Pekan Asesmen Kompetensi Guru. Supervisi dilakukan secara sampling pada satuan pendidikan di enam wilayah DKI Jakarta, yaitu Jakarta Utara, Jakarta Timur, Jakarta Selatan, Jakarta Barat, Jakarta Pusat, dan Kepulauan Seribu.

Para supervisor yang berasal dari unsur widyaiswara, pengembang teknologi pembelajaran (PTP), serta jabatan fungsional lainnya akan memastikan pelaksanaan asesmen berjalan sesuai ketentuan. Selain mengamati proses asesmen, supervisor juga akan membantu mengidentifikasi dan memitigasi berbagai kendala teknis dan administratif yang muncul di lapangan.

Supervisi tersebut juga diarahkan untuk menjaga integritas dan akuntabilitas pelaksanaan asesmen sehingga data yang diperoleh dapat menggambarkan kondisi kompetensi guru secara objektif.

Membangun Budaya Pengembangan Kompetensi Berbasis Data

Melalui Program Askom, BGTK DKI Jakarta dan Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta mendorong terbentuknya budaya pengembangan kompetensi guru yang berbasis data dan kebutuhan nyata.

Guru diharapkan mengikuti asesmen dengan serius, jujur, dan objektif, karena hasil yang diperoleh akan menjadi bagian dari pemetaan kebutuhan pengembangan kompetensi. Dalam pelaksanaannya, asesmen juga menggunakan pendekatan dialog, observasi, dan portofolio untuk memperoleh gambaran kompetensi yang lebih utuh.

“Kami mengundang seluruh guru di DKI Jakarta untuk mengikuti program ini dengan sebaik-baiknya. Mari menjadikan asesmen sebagai kesempatan untuk berefleksi, mengetahui kekuatan dan kebutuhan pengembangan diri, serta bersama-sama meningkatkan kualitas pembelajaran bagi murid,” pungkas Erfan.

Program Askom DKI Jakarta diharapkan menjadi salah satu fondasi penting dalam membangun ekosistem pengembangan profesional guru yang lebih terarah, berkelanjutan, dan berbasis kebutuhan. Dengan pemetaan kompetensi yang akurat, intervensi pengembangan guru diharapkan semakin tepat sasaran dan pada akhirnya berkontribusi terhadap peningkatan mutu pembelajaran di seluruh satuan pendidikan di DKI Jakarta.