GTK - Di sebuah sekolah dasar sederhana yang berdiri dari amanah wakaf tokoh masyarakat, semangat belajar tidak hanya tumbuh di kalangan murid, tetapi juga di antara para guru. Melalui pelaksanaan Hari Belajar Guru, SD Yayasan Pendidikan Islam berhasil membangun budaya belajar yang kuat dan berkelanjutan, meskipun berada di tengah berbagai keterbatasan.
Kepala Sekolah SD Yayasan Pendidikan Islam, Lili Dinasari, M.Pd., Gr.,memiliki pandangan bahwa menjadi pendidik berarti tidak pernah berhenti belajar. Guru ASN yang dipercaya memimpin satu-satunya sekolah swasta gratis di wilayahnya ini meyakini bahwa tugas seorang guru bukan hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga menanamkan adab dan karakter kepada murid. Karena itulah, ketika Surat Edaran tentang Hari Belajar Guru diterbitkan, ia melihatnya sebagai peluang untuk memperkuat budaya belajar di sekolah.
“Sebagai pendidik, kami harus terus meng-upgrade diri agar mampu mengikuti perkembangan dunia pendidikan dan memberikan layanan terbaik kepada murid,” ujarnya.
Dimulai dari Musyawarah dan Kesadaran Bersama
Langkah pertama yang dilakukan adalah mengadakan musyawarah internal bersama seluruh guru. Melalui forum tersebut, sekolah menyepakati hari pelaksanaan, tujuan kegiatan, serta bentuk-bentuk pembelajaran yang akan dilakukan. Penentuan jadwal menjadi tantangan tersendiri karena saat itu sekitar 80 persen guru di sekolah tersebut merupakan guru honorer.
Namun, tantangan itu dapat diatasi berkat kesadaran bersama tentang pentingnya ruang belajar bagi guru. Mereka menyadari bahwa Hari Belajar Guru dapat menjadi wadah untuk mempelajari hal-hal baru, mengingat kembali ilmu yang pernah dipelajari, melakukan refleksi pembelajaran, serta mencari solusi atas berbagai tantangan yang dihadapi di kelas.
Kesepakatan yang dibangun bersama inilah yang kemudian menjadi fondasi kuat bagi pelaksanaan Hari Belajar Guru secara konsisten setiap minggu.
Belajar dari Refleksi, Bertumbuh Melalui Kolaborasi
Salah satu kekuatan pelaksanaan Hari Belajar Guru di SD Yayasan Pendidikan Islam terletak pada proses refleksi yang dilakukan secara rutin. Di luar kegiatan Hari Belajar Guru, kepala sekolah secara berkala melakukan sesi tatap muka dengan setiap guru untuk membahas perencanaan pembelajaran mingguan.
Dalam pertemuan tersebut, guru dan kepala sekolah bersama-sama menelaah apa yang sudah berjalan baik, tantangan yang muncul selama pembelajaran, serta hal-hal yang perlu ditingkatkan. Berbagai hasil refleksi tersebut kemudian menjadi bahan utama yang dibahas saat Hari Belajar Guru.
Kegiatannya pun dibuat variatif agar menarik dan relevan dengan kebutuhan guru. Mulai dari presentasi dan diskusi kelompok, berbagi praktik baik, refleksi pembelajaran, asesmen, permainan edukatif yang dapat diterapkan di kelas, pembuatan karya, hingga kegiatan penguatan spiritual dan keagamaan.
Melalui berbagai aktivitas tersebut, guru tidak hanya memperoleh pengetahuan baru, tetapi juga belajar dari pengalaman rekan sejawat serta menemukan inspirasi untuk diterapkan dalam pembelajaran.
Pendekatan Personal yang Menumbuhkan Semangat Belajar
Bagi Lili Dinasari, keberhasilan Hari Belajar Guru tidak hanya ditentukan oleh program yang baik, tetapi juga oleh hubungan yang dibangun di antara warga sekolah. Karena itu, ia memilih pendekatan yang lebih personal dan emosional kepada para guru.
Pendekatan tersebut terbukti mampu menumbuhkan kesadaran dan motivasi dari dalam diri guru untuk terlibat aktif dalam setiap kegiatan. Sesekali, ia juga menghadirkan suasana belajar yang menyenangkan melalui permainan edukatif dan penghargaan sederhana yang tetap relevan dengan tujuan pembelajaran.
Cara ini membuat Hari Belajar Guru tidak dipandang sebagai tambahan beban kerja, melainkan sebagai ruang bersama untuk bertumbuh dan berkembang.
Dampak Nyata bagi Guru dan Sekolah
Setelah hampir satu tahun pelaksanaan, berbagai perubahan positif mulai terlihat di lingkungan sekolah. Salah satu perubahan paling signifikan terjadi pada pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran. Jika sebelumnya hanya sekitar tiga hingga empat guru yang aktif menggunakan perangkat digital untuk menyiapkan bahan ajar maupun mengajar di kelas, kini sebanyak sepuluh dari tiga belas guru telah memanfaatkan teknologi dalam proses pembelajaran.
Selain itu, kualitas perencanaan pembelajaran juga mengalami peningkatan. Hampir 95 persen guru telah menyusun perencanaan pembelajaran menggunakan kerangka Perencanaan Pembelajaran Mendalam yang sesuai dengan praktik pembelajaran di kelas. Dokumen pembelajaran yang disusun pun semakin lengkap, mulai dari asesmen harian, lembar kerja peserta didik, proyek, hingga dokumentasi hasil karya murid.
Tidak kalah penting, budaya kolaborasi di antara guru juga semakin kuat. Mereka lebih terbuka untuk berdiskusi, saling memberi masukan, berbagi pengalaman, dan mencari solusi bersama atas berbagai tantangan pembelajaran.
“Yang paling terasa adalah meningkatnya kolaborasi antarguru sehingga tercipta budaya belajar yang baik di sekolah,” ungkapnya.
Menumbuhkan Semangat Belajar Sepanjang Hayat
Bagi Lili Dinasari, Hari Belajar Guru bukan sekadar kegiatan rutin mingguan. Lebih dari itu, kegiatan ini merupakan upaya menumbuhkan semangat belajar sepanjang hayat bagi para pendidik.
Ia berharap semakin banyak sekolah yang memanfaatkan Hari Belajar Guru sebagai ruang refleksi, kolaborasi, dan pengembangan kompetensi. Menurutnya, ketika guru memiliki kemauan untuk terus belajar dan memperbaiki diri, dampaknya akan langsung dirasakan oleh murid dan satuan pendidikan secara keseluruhan.
“Semoga guru-guru senantiasa memiliki niat yang tulus untuk meningkatkan kompetensi dirinya dan terus belajar demi membersamai tumbuh kembang murid,” harapnya.
Pengalaman SD Yayasan Pendidikan Islam menunjukkan bahwa perubahan besar tidak selalu dimulai dari sekolah yang memiliki fasilitas lengkap. Dengan komitmen, kolaborasi, dan semangat belajar yang terus dipelihara, sebuah sekolah kecil pun mampu menghadirkan dampak besar bagi kualitas pembelajaran dan masa depan peserta didiknya.