GTK - Di tengah pesatnya arus transformasi digital, ada satu suara dari Timur Indonesia yang mengingatkan kita bahwa teknologi bukan sekadar alat, melainkan ruang pembentukan karakter. Suara itu datang dari Hendrikus, S.PdK., Gr., seorang guru Pendidikan Agama Kristen dan Koding di SMP Sion Timika.
Jika kita membayangkan Timika saat senja, langitnya terbentang indah dengan warna keemasan yang menenangkan. Namun di balik keindahan itu, realitas tidak selalu sederhana. Ada kalanya situasi keamanan kota kurang kondusif, menghadirkan ketegangan yang ikut terasa hingga ke ruang-ruang kelas. Di tengah kondisi itu, dengan fasilitas yang masih terbatas, proses belajar mengajar tetap harus berjalan.
Di SMP Sion, keterbatasan justru melahirkan kreativitas. Tanpa selalu bergantung pada komputer, Hendrikus menghadirkan pembelajaran melalui pembelajaran tanpa perangkat digital (unplugged coding). Di dalam kelas, murid-murid belajar logika koding melalui permainan kartu, penyusunan Brickz Puzzle Building Blocks, hingga simulasi gerak di depan papan tulis. Dalam suasana sederhana itu, mereka tetap belajar “berpikir seperti mesin” secara logis, runtut, dan sistematis.
Namun ketika listrik stabil dan jaringan internet memungkinkan, pembelajaran beralih ke metode plugged. Dengan segala keterbatasan perangkat, murid diminta membawa gawai masing-masing, dan bagi yang tidak memiliki, mereka belajar berbagi dalam kelompok. Di ruang kelas itu, kolaborasi bukan hanya sebagai metode, melainkan juga nilai yang hidup.
Bagi Hendrikus, mengikuti pelatihan Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) tidak hanya menambah keterampilan baru, tetapi juga panggilan moral. Ia menyaksikan langsung bagaimana murid-muridnya, sebagai generasi digital native, begitu akrab dengan teknologi, namun belum sepenuhnya memiliki ketahanan dalam menghadapi derasnya arus informasi, termasuk ancaman manipulasi konten seperti deepfake.
“Sebagai guru, saya merasa tidak cukup hanya mengajarkan teknologi. Saya harus membantu mereka memahami makna dan tanggung jawab di balik penggunaannya,” tuturnya.
Motivasi itulah yang mendorongnya untuk bertransformasi. Ia tidak lagi ingin murid hanya menjadi pengguna teknologi secara pasif, tetapi menjadi individu yang mampu berpikir kritis, logis, dan beretika. Baginya, pembelajaran koding harus berjalan beriringan dengan pembentukan karakter serta iman.
Salah satu metode yang ia kembangkan menjadi “resep” sederhana namun bermakna adalah penggunaan Brickz Puzzle Building Blocks. Dalam aktivitas ini, murid dibagi ke dalam kelompok. Satu orang berperan sebagai “Programmer” yang memberikan instruksi, sementara yang lain menjadi “Robot” yang menyusun balok.