GTK - Di tengah berbagai tuntutan administrasi dan padatnya aktivitas pembelajaran di sekolah, guru seringkali dihadapkan pada satu tantangan penting, apakah mereka memiliki waktu untuk belajar demi mengembangkan kompetensi?
Pertanyaan inilah yang secara tidak langsung dijawab oleh SMP Negeri 3 Pangkalan Kerinci melalui praktik Hari Belajar Guru (HBG). Menariknya, Sebelum kebijakan Hari belajar Guru diterbitkan, SMP Negeri 3 Pangkalan Kerinci sudah menyediakan ruang bagi guru untuk terus mengembangkan diri tanpa mengabaikan hak belajar murid.
Bagi Wenda Alifulloh, seorang guru matematika yang telah mengajar selama sepuluh tahun, belajar bukanlah kegiatan yang berhenti setelah seseorang menjadi guru. Justru sebaliknya, guru perlu terus memperbarui pengetahuan, memperluas wawasan, dan berkolaborasi dengan rekan sejawat agar mampu menghadirkan pembelajaran yang kontekstual bagi murid.
Selain mengajar, Wenda dipercaya sebagai Koordinator Pembelajaran Pendidikan Inklusif, Pembina OSIS, dan Kepala Laboratorium sekolah. Di luar sekolah, ia juga aktif sebagai Duta Teknologi Kemendikdasmen, anggota Guru Kreator Konten Indonesia, serta Guru Pejuang Digital. Berbagai keterlibatan tersebut semakin menguatkan keyakinannya bahwa guru yang terus belajar akan lebih siap menghadapi perubahan dunia pendidikan dan tantangan zaman yang begitu cepat.
Diawali Penjadwalan yang Berpihak pada Guru
Pelaksanaan Hari Belajar Guru di SMP Negeri 3 Pangkalan Kerinci dimulai dari kesadaran bersama bahwa guru membutuhkan waktu khusus untuk hadir pada kegiatan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP). Karena itu, sebelum jadwal pelajaran disusun, Tim Kurikulum terlebih dahulu mendata hari pelaksanaan MGMP setiap mata pelajaran. Informasi tersebut kemudian menjadi dasar dalam menyusun jadwal belajar mengajar.
Sebagai contoh, jika MGMP Matematika dilaksanakan setiap hari Rabu, maka guru Matematika akan diberikan jadwal yang lebih longgar pada hari tersebut. Dengan cara ini, guru dapat mengikuti kegiatan MGMP tanpa harus meninggalkan kelas atau terburu-buru kembali ke sekolah untuk mengajar.
"Kami ingin kebutuhan pengembangan kapasitas guru terpenuhi, tanpa mengorbankan layanan pembelajaran kepada murid," ungkap Wenda. Praktik sederhana ini terbukti mampu menciptakan keseimbangan antara kebutuhan belajar guru dan kebutuhan belajar murid.
Merencanakan Kolaborasi dengan Baik
Keberhasilan Hari Belajar Guru bukan hanya ditentukan dari internal sekolah saja, tetapi juga oleh koordinasi antar sekolah dalam satu rayon. Di wilayah tempat Wenda bertugas, terdapat kesepakatan bahwa kegiatan MGMP tidak dilaksanakan secara serentak pada hari yang sama untuk semua mata pelajaran. Setiap MGMP memiliki jadwal berbeda sehingga sekolah tetap memiliki cukup guru yang bertugas di kelas. Pendekatan ini membantu sekolah mengatur sumber daya secara lebih efektif sekaligus memastikan kegiatan pembelajaran tidak terganggu dan tetap berjalan baik.
Meski demikian, tantangan masih ditemukan di sejumlah sekolah lain. Tidak semua guru memperoleh kelonggaran jadwal saat mengikuti MGMP. Akibatnya, sebagian guru masih harus meninggalkan kelas ketika kegiatan berlangsung dan kembali mengajar setelah kegiatan selesai. Menurut Wenda, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya pemahaman dan komitmen pimpinan sekolah dalam mendukung implementasi Hari Belajar Guru.
Belajar Bersama demi Bertumbuh Bersama
Pada Hari Belajar Guru, para guru rutin mengikuti kegiatan MGMP bersama rekan guru dari sekolah lain yang mengampu mata pelajaran yang sama. Forum ini menjadi ruang belajar yang banyak diisi diskusi dan pertukaran pengalaman.
Berbagai topik dibahas, mulai dari penyusunan Tujuan Pembelajaran (TP) berdasarkan Capaian Pembelajaran (CP), pengembangan Alur Tujuan Pembelajaran (ATP), hingga pembaruan informasi terkait kebijakan dan perkembangan kurikulum.
Bagi Wenda, nilai utama dari kegiatan ini bukan hanya materi yang diperoleh, melainkan kesempatan untuk saling belajar dari praktik nyata yang dialami guru di lapangan. Sering kali solusi atas berbagai tantangan pembelajaran justru ditemukan melalui percakapan sederhana dengan sesama guru yang menghadapi situasi serupa.
Menjaga Semangat Partisipasi Guru
Salah satu tantangan terbesar dalam pelaksanaan MGMP adalah persoalan jarak dan akses menuju lokasi pertemuan. Tidak semua guru memiliki kondisi yang sama untuk dapat hadir secara rutin.
Untuk menjaga keterlibatan anggota, pengurus MGMP menerapkan kebijakan bahwa setiap guru wajib mengikuti setidaknya dua kali pertemuan dalam satu tahun. Kebijakan ini menjadi langkah realistis untuk memastikan seluruh anggota tetap terhubung dengan komunitas belajar tanpa mengabaikan berbagai keterbatasan yang ada. Selain memenuhi kewajiban, kehadiran guru dalam forum MGMP juga diharapkan dapat menumbuhkan budaya belajar yang berkelanjutan.
Dampak yang Mulai Terasa
Bagi banyak guru, kebijakan Hari Belajar Guru menjadi angin segar. Mereka kini memiliki ruang yang lebih jelas dan terstruktur untuk mengikuti kegiatan pengembangan profesi tanpa merasa bersalah karena harus meninggalkan tugas mengajar.
Di SMP Negeri 3 Pangkalan Kerinci sendiri, Hari Belajar Guru bahkan telah menjadi salah satu pertimbangan utama dalam penyusunan jadwal pelajaran. Dampaknya, berbagai kendala yang selama ini sering muncul dapat diminimalisir. Guru dapat belajar dengan lebih tenang, sementara murid tetap memperoleh layanan pembelajaran yang optimal.
Praktik ini membuktikan bahwa ketika sekolah memberikan ruang bagi guru untuk belajar, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh guru, tetapi juga oleh murid yang mendapatkan pembelajaran yang semakin berkualitas. Wenda berharap Hari Belajar Guru terus diperkuat, baik melalui kegiatan MGMP maupun Komunitas Belajar (Kombel) di tingkat sekolah.
Kedua wadah tersebut memiliki peran penting dalam mendukung pengembangan kompetensi guru secara berkelanjutan. "Guru membutuhkan ruang untuk belajar, berbagi praktik baik, dan bertumbuh bersama. Semakin banyak ruang belajar yang tersedia, semakin besar peluang kita untuk meningkatkan kualitas pembelajaran bagi murid," ujarnya.
Investasi untuk Masa Depan Pendidikan
Menurut Wenda, Hari Belajar Guru sebaiknya tidak dipandang sebagai tambahan beban atau sekadar menggugurkan himbauan. Sebaliknya, kegiatan ini merupakan investasi jangka panjang bagi kualitas pendidikan.
Bagi kepala sekolah, dukungan dalam bentuk kebijakan dan pengaturan jadwal menjadi kunci keberhasilan pelaksanaannya. Sementara bagi guru, Hari Belajar Guru adalah kesempatan berharga untuk berbagi pengalaman, berdiskusi, dan belajar bersama.
Karena pada akhirnya, guru yang terus belajar akan lebih siap menghadapi perubahan, lebih percaya diri dalam mengajar, dan lebih mampu menghadirkan pembelajaran yang bermakna bagi murid.
Ketika budaya belajar tumbuh di kalangan guru, maka kualitas pendidikan pun akan ikut bertumbuh. Dan dari ruang-ruang diskusi sederhana itulah, perubahan besar sering kali dimulai.