GTK - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus berupaya meningkatkan kualitas tumbuh kembang anak Indonesia melalui penguatan kapasitas para pendidik usia dini. Salah satunya dengan menggelar pelatihan teknis nongelar (non-degree technical training) bertajuk “Healthy Eating Development for Early Childhood” secara daring pada 11-18 September 2026 di Tangerang Selatan.
Pelatihan itu menghadirkan kolaborasi strategis antara Direktorat Guru PAUD dan PNF dengan Monash University, Australia.
Pelatihan itu diikuti oleh 40 peserta terpilih yang mewakili 14 provinsi di Indonesia. Para peserta terdiri dari pendidik dan kepala sekolah jenjang PAUD yang memiliki komitmen kuat dalam mengembangkan pola hidup sehat di lingkungan sekolah.
Meski dilaksanakan secara dalam jaringan (daring), antusiasme para peserta sangat tinggi. Melalui ruang diskusi virtual, mereka saling berbagi pengalaman mengenai tantangan pemenuhan gizi anak di daerah masing-masing, mulai dari kebiasaan anak yang pemilih makanan (picky eater), tingginya konsumsi makanan olahan (ultra-processed food), hingga peran budaya lokal dalam penyediaan sarapan.
Langsung dari Monash
Selama satu minggu penuh, 40 peserta terpilih berdiskusi asyik bersama Asc. Prof. Megan Adams dan Asc. Prof. Gloria Quinones dari Monash University. Mereka menyampaikan materi yang aplikatif dan berbasis riset internasional dengan beberapa fokus utama yang dibahas meliputi:
- Pemahaman Pola Makan Sehat: Menerapkan konsep gizi seimbang yang sesuai dengan konteks kearifan lokal Indonesia, seperti prinsip "Isi Piringku.”
- Faktor yang Memengaruhi Perilaku Makan Anak: Mempelajari bagaimana karakteristik anak, kebiasaan keluarga, media/iklan, serta budaya lokal membentuk pola konsumsi anak.
- Strategi Pendekatan Positif: Mengembangkan metode pembelajaran yang menyenangkan tanpa paksaan, agar anak dapat mengenal dan menyukai makanan bernutrisi melalui cerita dan permainan interaktif.
- Kolaborasi Sekolah dan Orang Tua: Membangun kemitraan yang kuat antara pendidik dan keluarga guna memastikan pembiasaan makan sehat berlanjut hingga ke rumah.
Isu-isu nyata di lapangan menjadi bahan diskusi hangat selama pelatihan. Para peserta diajak membedah berbagai kasus sehari-hari, seperti cara menyikapi anak yang menolak sayuran atau mengganti makanan pokok dengan camilan manis.
Dengan bimbingan dari para pakar Monash University, peserta dibekali kemampuan untuk merancang respons yang edukatif dan empati. Pendidik diajarkan untuk tidak menghakimi pilihan makanan yang dibawa anak dari rumah, melainkan merangkul keluarga melalui kelas orang tua (parenting class) dan pendekatan psikologis yang ramah anak.
Mengubah pola makan anak memang membutuhkan proses, kesabaran, dan sinergi bersama. Namun, setiap langkah kecil yang diambil para pendidik hari ini adalah investasi besar bagi masa depan bangsa.
Kesehatan dan kecerdasan anak-anak kita tidak hanya ditentukan oleh apa yang mereka pelajari di dalam kelas, tetapi juga dari apa yang tersaji di atas piring makan mereka. Mari bergandengan tangan sekolah, keluarga, dan masyarakat untuk menghadirkan pengalaman makan yang sehat, menyenangkan, dan penuh kasih sayang bagi seluruh anak Indonesia!
sumber: Dit. Guru Paud PNF