GTK - Di banyak sekolah, Senin identik dengan upacara, rapat, atau pekerjaan yang siap menanti. Namun di SDN Karangsari, Senin memiliki makna yang berbeda. Setelah bel pulang sekolah berbunyi dan murid kembali ke rumah, para guru memilih berkumpul untuk belajar bersama.
Mereka menyebutnya "Senin SAKTI" yang merupakan singkatan dari Sinergi, Aksi, Komunikatif, Tangguh, dan Beriman. Sebuah ruang yang lahir dari kesadaran bahwa sekolah dapat terus berkembang dan adaptif jika guru-gurunya juga terus bertumbuh.
Bagi Slamet Widiantoro, M.Pd., yang baru mengemban amanah sebagai Kepala SDN Karangsari, Hari Belajar Guru merupakan titik awal membangun budaya belajar untuk memperkuat ekosistem pendidikan di sekolah.
"Saya punya prinsip, berhentilah mengajar jika tidak mau belajar. Guru harus menjadi pembelajar sepanjang hayat agar bisa memberikan pembelajaran terbaik kepada murid." Kalimat sederhana itu kemudian menjadi fondasi perubahan di SDN Karangsari.
Perubahan Dimulai dari Membangun Kebersamaan
Ketika pertama kali bertugas, Slamet yang biasa disapa Mr. Widi tidak langsung membawa berbagai program baru. Ia lebih dulu mengamati situasi sekolah. Menurutnya, tantangan terbesar bukan terletak pada sarana atau kurikulum, melainkan bagaimana menyatukan visi seluruh warga sekolah. Ia percaya bahwa perubahan tidak mungkin dilakukan sendirian.
Berbekal pengalaman sebagai Ketua Kelompok Kerja Guru (KKG), narasumber, dan fasilitator bagi guru, ia mulai mengajak guru-guru berdiskusi secara personal. Dari percakapan sederhana itu, muncul kesamaan harapan bahwa sekolah membutuhkan ruang untuk belajar bersama. Momentum Hari Belajar Guru kala itu menjadi kesempatan yang tepat.
Rapat bulanan yang sebelumnya hanya berisi penyampaian informasi kemudian diubah menjadi forum belajar rutin setiap pekan. Hari Senin dipilih karena relatif minim agenda kedinasan, sementara pelaksanaannya dilakukan setelah kegiatan belajar mengajar selesai sehingga tidak mengganggu pembelajaran murid. Meski demikian, pelaksanaannya tetap mengedepankan fleksibilitas.
"Kalau sedang banyak kegiatan sekolah atau ada guru yang berhalangan hadir, kami bisa menyesuaikan hari dan kesepakatan bersama. Jangan sampai kegiatan belajar guru justru menjadi beban baru," jelas Slamet.
Dari Curhat Menjadi Solusi
Yang membuat Hari Belajar Guru di SDN Karangsari terasa berbeda adalah suasana belajar yang dibangun. Forum ini bukan ruang untuk menilai siapa yang paling berhasil mengajar, melainkan ruang aman bagi setiap guru untuk saling belajar. Guru didorong untuk berani menceritakan tantangan yang mereka hadapi di kelas, membagikan pengalaman, sekaligus bersama-sama mencari solusi yang paling relevan dengan kebutuhan murid. Dari budaya saling percaya inilah lahir konsep REPIK (Refleksi, Evaluasi, Perbaiki, Inovasi, dan Kolaborasi) sebagai semangat bahwa setiap pengalaman mengajar, baik keberhasilan maupun kendala, merupakan sumber pembelajaran yang berharga.
Semangat REPIK dijalankan melalui pendekatan inkuiri kolaboratif, yakni proses belajar bersama antara guru dan kepala sekolah sebagai mitra dalam menemukan solusi atas persoalan pembelajaran. Dengan cara ini, Hari Belajar Guru tidak berhenti pada diskusi atau berbagi cerita, tetapi menjadi proses perbaikan yang berbasis bukti, kolaboratif, dan berkesinambungan. Setiap guru belajar dari guru lain, kepala sekolah berperan sebagai pendamping pembelajaran, dan seluruh warga sekolah bergerak bersama membangun budaya belajar yang pada akhirnya bermuara pada peningkatan kualitas pembelajaran bagi setiap murid.
Setiap pekan setiap guru diajak merefleksikan pengalaman mengajar, mengevaluasi apa yang berjalan baik maupun yang belum berhasil, kemudian bersama-sama mencari solusi dan merancang inovasi yang bisa langsung diterapkan. Tidak ada ide yang dianggap terlalu sederhana.
Satu guru satu suara, setiap orang diberi kesempatan menyampaikan gagasan, bertanya, maupun memberikan masukan. Perlahan, budaya diskusi mulai tumbuh. Guru yang sebelumnya cenderung pasif mulai terbiasa berpikir kritis dan menyampaikan pendapat.
Forum ini juga menjadi tempat berbagi praktik baik hasil pelatihan, pengembangan kurikulum, pembelajaran mendalam, pelayanan prima, Penyelesaian administrasi guru, hingga pemanfaatan teknologi digital. Bahkan, sesekali mereka menghadirkan narasumber dari luar sekolah, mulai dari komite sekolah, pengawas, komunitas pendidikan, hingga komunitas Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) kota Yogyakarta agar perspektif baru terus mengalir ke lingkungan sekolah.
Kepala Sekolah Turut Menjadi Pembelajar
Bagi Slamet, kepala sekolah tidak cukup hanya menjadi pengarah. Ia harus ikut duduk bersama guru, mendengarkan, berdiskusi, bahkan berbagi pengalaman mengajar dan membimbing murid berprestasi yang pernah dijalani selama lebih dari dua dekade.
Ia percaya bahwa kepemimpinan yang efektif bukan lahir dari banyaknya instruksi, melainkan dari keteladanan. Ketika kepala sekolah ikut belajar, guru akan merasa bahwa proses bertumbuh adalah tanggung jawab bersama. Di sinilah perlahan rasa sungkan mulai menghilang.
Guru tidak lagi malu menceritakan kesulitan mengelola kelas atau mengakui strategi pembelajarannya belum berhasil. Sebaliknya, mereka menemukan bahwa setiap tantangan selalu bisa menjadi bahan belajar bersama.
Dampaknya Terasa Hingga Ruang Kelas
Berbagai ide yang lahir dari Hari Belajar Guru mulai diwujudkan menjadi program nyata di sekolah. Guru menghadirkan pembelajaran yang lebih kreatif, lebih variatif, dan lebih dekat dengan kehidupan murid. Kegiatan kokurikuler semakin beragam. Pembelajaran luar kelas mulai lebih sering dilakukan. Kolaborasi dengan masyarakat, perguruan tinggi, komunitas, hingga berbagai lembaga juga semakin terbuka. Yang paling terasa, menurut Mr Widi, adalah tumbuhnya budaya refleksi.
Guru mulai terbiasa bertanya kepada dirinya sendiri "Apa yang sudah berhasil?," "Apa yang perlu diperbaiki minggu depan?," Pertanyaan-pertanyaan sederhana itu membuat kualitas pembelajaran terus bergerak maju sedikit demi sedikit. Murid pun merasakan pembelajaran menjadi lebih bermakna, menyenangkan, lebih berpusat pada kebutuhan mereka. Hal ini terbukti dari hasil refleksi guru, refleksi murid setelah pembelajaran, serta berbagai tanggapan orang tua yang disampaikan melalui kanal komunikasi antara guru dan orang tua.
Guru Tidak Lagi Belajar Sendiri
Mr Widi meyakini bahwa praktik baik tidak seharusnya berhenti di satu sekolah. Ia berharap Hari Belajar Guru suatu saat berkembang menjadi jejaring pembelajaran antar sekolah sehingga praktik baik dapat saling menginspirasi tanpa memandang status sekolah.
Baginya, kualitas pendidikan akan tumbuh lebih cepat jika guru dan kepala sekolah saling berbagi pengalaman, bukan saling berkompetisi . Ia juga berharap pemerintah dan kebijakan sistem di daerah terus memberikan dukungan agar guru memiliki ruang dan waktu untuk belajar tanpa dibayangi beban administrasi yang berlebihan.
Bertumbuh Bersama, Selangkah demi Selangkah
Slamet menyampaikan pesan sederhana bagi kepala sekolah maupun guru yang baru memulai Hari Belajar Guru. Jangan menunggu semuanya sempurna. Pertemuan pertama mungkin terasa canggung. Diskusi mungkin belum hidup. Ide yang muncul mungkin masih sederhana. Namun justru dari langkah-langkah kecil itulah budaya belajar akan terbentuk.
"Bersikaplah terbuka untuk belajar. Jangan malu mengakui kekurangan. Komunitas belajar bukan tempat menunjukkan siapa yang paling hebat, tetapi ruang untuk saling menguatkan."
Karena pada akhirnya, sekolah yang baik bukanlah sekolah yang tidak pernah memiliki masalah, melainkan sekolah yang terus belajar mencari jalan keluarnya. Dan di SDN Karangsari, perjalanan itu dimulai setiap hari Senin, ketika ruang rapat berubah menjadi ruang tumbuh bagi semua.