Close Menu
Logo

    Subscribe to Updates

    Berita Terkini

    Ditjen GTK Hadirkan Kampanye “Semua Bisa Mengajar” pada Bulan Pendidikan Nasional 2026

    14 Mei 2026

    Pemerintah Daerah Terbantu, SE Mendikdasmen Nomor 7 Tahun 2026 Jaga Keberlangsungan Pendidikan

    14 Mei 2026

    Dampak TPG Perkuat Kesejahteraan dan Profesionalisme Guru di Yogyakarta

    12 Mei 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram

    GTKPG GTKPG

    Pendidikan Ramah
    • Landing Page
    • Forum
    Facebook X (Twitter) Instagram
    SUBSCRIBE
    • Home
    • Profil
      • Profil Dirjen
      • Visi Misi Ditjen GTKPG
      • Struktur Organisasi
      • Tugas & Fungsi
      • Tentang Kami
    • Berita
      1. Bahasa dan Sastra
      2. Literasi, Numerasi. Teknologi
      3. Pendidikan Karakter
      4. Ramah dan Santun
      5. Sahabat GTKPG
      6. Indeks

      Tidak ada berita tersedia untuk kategori ini.

      Semakin Percaya Diri: PKGSD-MBI Perkuat Kesiapan Guru SD Mengajar Bahasa Inggris

      13 Apr 2026

      Ribuan Guru Berpeluang Ikuti Penyetaraan Pelatihan Pendidikan Inklusif Tingkat Lanjut, Kemendikdasmen Perpanjang Pendaftaran hingga 25 April 2026

      13 Apr 2026

      Jepang Tertarik Inovasi Taman Numerasi di Indonesia

      13 Apr 2026

      Mendikdasmen Berkomitmen Tingkatkan Kemahiran Guru Bahasa Inggris di Indonesia

      12 Feb 2025

      Webinar SPAB Seri 3: Cerita dari Garda Terdepan Pendidikan Aman Bencana

      15 Jul 2025

      Penguatan Keterampilan Numerasi Siswa melalui Inovasi Pembelajaran yang Menyenangkan

      05 Mei 2025

      Sinergi Pemerintah untuk Menguatkan Tumbuh Kembang Anak

      03 Feb 2025

      Inisiatif Kemendikdasmen Membuat Lagu yang Mendukung Penguatan Karakter Anak

      02 Feb 2025

      Percepatan Transformasi Pemerintahan dan Peningkatan Kualitas Pembelajaran Siswa

      25 Mar 2026

      Kemendikdasmen Sukses Pertahankan Predikat Badan Publik Informatif di Tahun 2025

      17 Des 2025

      Penjelasan Mendikdasmen Terkait Pembelajaran di Wilayah Terdampak Bencana

      06 Des 2025

      Prabowo: Saya Jadi Presiden Karena Didikan Guru

      29 Nov 2025

      SINDARA Dipahami Keliru, Ini Peran Sebenarnya dalam Pengembangan Guru

      10 Apr 2026

      Menghadirkan Pembelajaran yang Lebih Bermakna: Kisah Putu Yudi Darmawan dari SMP Negeri 1 Sukasada

      15 Des 2025

      Menjembatani Masa Depan: Perjalanan Leni Fitria Wati Menghadirkan Koding dan Kecerdasan Artifisial di Kelas

      11 Des 2025

      Kolaborasi Indonesia-Australia Hadirkan Pelatihan Pembelajaran Mendalam untuk Guru PAUD

      21 Nov 2025
    • Layanan
      • Internal
        • SIMPKB
        • Info GTK
        • Maklumat Pelayanan
        • Visi Misi Pelayanan Publik
        • Standar Pelayanan
        • Pedoman Pelayanan
        • Publikasi
        • Siaran Pers
      • Eksternal
        • Pengaduan/Lapor!
        • Arsip Nasional
        • Perpusatakaan Kemdikbud
        • Perpustakaan Nasional
        • Whistleblowing System
    • Satuan Kerja
      • Satker Pusat
        • Sekretariat Ditjen GTKPG
        • Dit. Guru Dikdas
        • Dit. Guru Dikmendiksus
        • Dit. Guru PAUD dan PNF
        • Dit. KSPS dan Tendik
        • Dit. PPG
      • Satker Daerah
        • BBGP
        • Sumatera Utara
        • Jawa Barat
        • Jawa Tengah
        • D.I. Yogyakarta
        • Jawa Timur
        • Sulawesi Selatan
      • Satker Daerah (2)
        • BGP
        • Prov. Aceh
        • Prov. Sumatera Barat
        • Prov. Riau
        • Prov. Jambi
        • Prov. Sematera Selatan
        • Prov. Lampung
        • Prov. Kepulauan Riau
        • Prov. Kepulauan Bangka Belitung
        • Prov. Bengkulu
        • Prov. Banten
        • Prov. Bali
        • Prov. NTB
        • Prov. NTT
    • Informasi Publik
      • LHKPN
      • LHKASN
    • Akuntabilitas Kinerja
      • Rencana Strategis
      • Rencana Kinerja
      • Laporan Kinerja
      • Perjanjian Kinerja
      • DIPA
    • Ruang GTK
    GTKPG
    Home»Berita»Ketika Rumah-Rumahan Mengajarkan Ketekunan: Kisah Zidna Isnawati, Guru TK yang Menemukan Makna Pembelajaran Mendalam
    {"id":13,"name":"Sahabat GTKPG"}

    Ketika Rumah-Rumahan Mengajarkan Ketekunan: Kisah Zidna Isnawati, Guru TK yang Menemukan Makna Pembelajaran Mendalam

    Sekretariat GTKBy Sekretariat GTKApril 23, 2026Updated:May 18, 20263 Comments5 Mins Read
    Facebook Twitter WhatsApp
    Ketika Rumah-Rumahan Mengajarkan Ketekunan: Kisah Zidna Isnawati, Guru TK yang Menemukan Makna Pembelajaran Mendalam
    Share
    Facebook Twitter

    GTK - Di sebuah sudut sejuk Kota Batu, tepatnya di TK Negeri Pembina Kecamatan Bumiaji Kota Batu, Zidna Isnawati Fahima Dini, M.Pd menata ulang cara pandangnya tentang mengajar. Bagi Zidna, ruang kelas bukan sekadar tempat anak-anak bernyanyi dan mengerjakan lembar kerja. Di sanalah fondasi kehidupan sedang dibangun, pada masa yang ia sebut sebagai “Golden Age”, masa emas yang tak bisa diulang.

    Mengajar Lebih dari Sekadar Mengisi Waktu

    Motivasi Zidna mengikuti program Pembelajaran Mendalam yang diselenggarakan Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan (BBGTK) Jawa Timur lahir dari kegelisahan yang sederhana namun mendalam. Ia tidak ingin waktu belajar di kelas berlalu begitu saja. Ia ingin setiap permainan, setiap percakapan, setiap aktivitas kecil memiliki makna yang kuat bagi perkembangan kognitif dan karakter anak.

    “Anak usia dini tidak cukup hanya diberi aktivitas. Mereka perlu pengalaman yang membekas,” tuturnya.

    Baginya, tantangan terbesar adalah menghadirkan konsep seperti nalar kritis dan kreativitas dalam cara yang menyenangkan dan sesuai usia. Ia menyadari, pembelajaran yang terlalu berpusat pada lembar kerja sering kali membuat anak belum memahami proses. Pelatihan pembelajaran ini menurutnya, menjawab kebutuhan itu untuk membantu beralih dari pola teacher-centered menuju pembelajaran berbasis inkuiri dan pengalaman nyata.

    Dari Instruksi Menuju Inkuiri

    Selama pelatihan, Zidna merasakan pergeseran paradigma yang kuat. Ia memahami bahwa pembelajaran mendalam bukan tentang materi yang rumit, melainkan tentang memberi ruang eksplorasi.

    Kini ia terbiasa menyusun pertanyaan terbuka (open-ended questions) yang memantik rasa ingin tahu anak. Ia belajar menahan diri untuk tidak buru-buru memberi jawaban. Ia merancang lingkungan main yang mengundang anak berpikir lebih kreatif dan mengaitkan pengalaman belajar dengan kehidupan sehari-hari.

    “Saya dulu terlalu banyak memberi instruksi. Sekarang saya belajar memberi ruang,” tambahnya.

    Ketika “Rumahku” Menjadi Laboratorium Kehidupan

    Perubahan itu nyata ketika ia menerapkan proyek sederhana bertema Rumahku. Alih-alih meminta anak menggambar rumah di kertas, ia mengajak mereka membangun maket menggunakan bahan lepas seperti ranting, kardus bekas, batu, balok, hingga tutup botol.

    Ia tidak memberi langkah-langkah rinci. Sebaliknya, ia melontarkan satu pertanyaan pemantik “Bagaimana ya caranya agar atap rumah ini tidak jatuh saat ditiup angin?”

    Pertanyaan itu mengubah suasana kelas. Anak-anak berdiskusi, mencoba, gagal, lalu mencoba lagi. Bangunan roboh bukan lagi tanda kesalahan, melainkan bagian dari proses belajar.

    Kebaruan metode ini terletak pada perubahan peran guru. Zidna tidak lagi menjadi pusat instruksi, melainkan fasilitator tantangan. Ia tidak membenarkan atau menyalahkan. Ia mengajak anak melakukan proses eksplorasi dan percobaan secara bertahap, menumbuhkan cara menyelesaikan masalah secara alami.

    Respons murid luar biasa. Anak yang biasanya pasif terdorong untuk ikut aktif berdiskusi tentang bahan mana yang paling kuat untuk tiang. Mereka belajar tentang ketekunan tanpa sadar sedang dilatih. Kolaborasi tumbuh bukan karena perintah, tetapi karena kebutuhan.

    Mindset yang Berubah, Kelas yang Menghidup

    Dampak terbesar justru terjadi dalam dirinya sendiri. Jika dulu ia merasa cemas ketika kelas menjadi ribut atau hasil karya anak tak sesuai ekspektasinya, kini ia lebih tenang. Ia belajar percaya pada proses. Ia menyadari bahwa tugas guru bukan hanya mentransfer ilmu, melainkan memfasilitasi rasa ingin tahu. Ia mundur selangkah agar anak-anak bisa maju mengambil inisiatif.

    Iklim kelas pun berubah. Komunikasi yang dulu satu arah kini menjadi dialog dua arah yang bermakna. Ia lebih peka mendengar pendapat sekaligus pilihan yang ingin diambil anak-anak dalam belajar. Ikatan emosional terasa lebih kuat. Anak-anak lebih berani mencoba, tidak takut salah, serta terlihat lebih nyaman dan bahagia.

    “Rasa lelah mengajar berkurang. Setiap hari ada kejutan dari ide-ide mereka,” ujarnya dengan senyum.

    Tantangan: Antara Proses dan Ekspektasi Instan

    Namun perjalanan ini tidak tanpa hambatan. Tantangan terbesar datang dari ekspektasi orang tua yang masih berorientasi pada hasil akademis instan seperti membaca, menulis, berhitung (Calistung) secepat mungkin.

    Pembelajaran berbasis bermain sering dianggap “hanya main-main”. Tekanan itu terkadang membuatnya ragu untuk sepenuhnya meninggalkan pendekatan lama. Ia menyadari perlunya strategi komunikasi yang lebih efektif untuk mengedukasi orang tua tentang pentingnya fondasi berpikir kritis dan karakter.

    Ia berharap ada dukungan berupa materi parenting dan contoh portofolio dari sekolah lain yang berhasil meyakinkan orang tua bahwa pembelajaran mendalam justru mempersiapkan anak lebih matang untuk masa depan.

    Harapan untuk Keberlanjutan

    Secara keseluruhan, ia menilai program ini sangat bermanfaat dan relevan. Ia mengapresiasi keseriusan penyelenggara dalam merancang kurikulum yang sesuai kebutuhan guru masa kini. Meski demikian, ia mengakui durasi tugas mandiri terasa cukup padat di tengah tanggung jawab mengajar dan administrasi sekolah.

    Namun satu hal yang pasti, pelatihan ini tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi mengubah cara pandangnya tentang anak dan proses belajar.

    Di kelas kecil di Kota Batu itu, pembelajaran tidak lagi sekadar kegiatan rutin. Ia telah menjelma menjadi ruang hidup, tempat anak-anak belajar membangun rumah, sekaligus membangun ketekunan, keberanian, dan kepercayaan diri mereka sendiri.

    Share. Facebook Twitter
    Sekretariat GTK
    • Website
    • Facebook
    • X (Twitter)
    • Instagram

    Related Posts

    Percepat Kualifikasi Guru Lewat PKA, 150.465 Guru Jadi Target 2026

    Oct 4, 2022

    Kemendikdasmen Luncurkan Pelatihan Pendidikan Inklusif Tingkat Mahir, Penuhi Kebutuhan Guru Pendidikan Khusus

    Oct 4, 2022

    Pendaftaran IKTE 2026 Dibuka Hingga 2 Maret

    Oct 4, 2022

    Menyalakan Harapan dari Dampal Utara: Kisah Putri Ningsi Menyemai Masa Depan Lewat Koding dan Kecerdasan Artifisial

    Oct 4, 2022

    Di Balik Angka, Ada Proses dan Makna: Kisah Nora Okrimita dan Pembelajaran Mendalam

    Oct 4, 2022
    Terpopular
    Artikel

    Merdeka Belajar

    Oct 4, 2022

    To understand the new smart watched and other pro devices of recent focus, we should…

    Seleksi Guru PPPK Tahun 2023 Telah Dibuka, Ini Perbedaan dengan Tahun Lalu

    Oct 4, 2022

    Surat Edaran Tentang Kualifikasi Akademik dan Sertifikat Pendidik Dalam Pendaftaran Pengadaan Guru PPPK 2021

    Oct 4, 2022

    Asesmen Awal Pembelajaran dan Pembelajaran Berdiferensiasi Penting untuk Melakukan Pemetaan Siswa

    Oct 4, 2022

    Mengenal Konsep Merdeka Belajar dan Guru Penggerak

    Oct 4, 2022
    Our Picks

    DMS Reveals Key MENA Travel Trends Post-Covid

    Jan 15, 2021

    Veterinarian Reveals the Five Dog Breeds He’d Never Choose

    Jan 14, 2020

    A Healthy Road to Weight Loss: The Most Effective Diet for You

    Jan 14, 2020

    T-Mobile Seeks Early Access to 2.5 GHz from Auction 108

    Jan 14, 2020
    Stay In Touch
    • Facebook
    • Twitter
    • Instagram
    • YouTube
    Demo

    Subscribe to Updates

    Facebook X (Twitter) Instagram
    © 2025 Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.