Jakarta, 29 April 2026 — Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kepandidikan (Ditjen GTK) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menargetkan 150.465 guru mengikuti Program Pemenuhan Kualifikasi Akademik (PKA) S1/D4 pada tahun ini sebagai bagian dari percepatan peningkatan kualitas guru di Indonesia.
Hal ini disampaikan dalam Webinar Sapa GTK Episode 3 yang menjadi ruang sosialisasi sekaligus penguatan komitmen peningkatan kualifikasi akademik guru di seluruh Indonesia.
Target tersebut menjadi krusial mengingat masih terdapat lebih dari 170 ribu guru pendidikan formal yang belum memenuhi kualifikasi akademik minimal S1/D4 sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.
Mewakili Direktur Guru PAUD dan Pendidikan Nonformal, Kepala Subdirektorat Peningkatan Kapasitas, Perlindungan, dan Pengendalian Direktorat Guru PAUD dan PNF, Efrini, menegaskan bahwa percepatan program ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat kualitas pendidikan nasional. Program PKA S1/D4, menurutnya, tidak sekadar pemenuhan administratif, tetapi merupakan bagian dari upaya besar negara dalam memperkuat fondasi akademik guru.
“Program PKA S1/D4 adalah ikhtiar besar negara untuk memastikan setiap guru memiliki fondasi akademik yang kuat,” ujar Efrini.
Ia menambahkan bahwa kualitas guru merupakan kunci dalam pembangunan sumber daya manusia, sejalan dengan Asta Cita ke-4 Presiden Republik Indonesia. Tanpa guru yang kuat, pembelajaran yang bermakna akan sulit terwujud.
Data Kemendikdasmen menunjukkan tren positif. Pada tahun 2025, sebanyak 12.500 guru telah mengikuti program ini. Sementara pada awal tahun 2026, tercatat 13.669 guru mulai menjalani perkuliahan. Meski demikian, capaian tersebut masih perlu dipercepat untuk menjawab kebutuhan nasional.
Efrini menilai tingginya antusiasme guru perlu diimbangi dengan perluasan akses program yang lebih merata. Untuk itu, pemerintah menghadirkan skema yang lebih fleksibel, termasuk pembelajaran daring, pembiayaan penuh, serta pemanfaatan mekanisme rekognisi pembelajaran lampau (RPL) guna mempercepat masa studi.
Efrini jugai mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk bersama-sama menyukseskan program ini melalui sosialisasi yang lebih luas serta memastikan data kualifikasi guru pada Dapodik akurat agar intervensi tepat sasaran.Ia mendorong Dinas Pendidikan untuk memberikan pendampingan akademik, khususnya bagi guru yang masih menghadapi keterbatasan literasi digital dan akses pembelajaran.
Dari sisi akademik, Ismah, Dosen Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Jakarta, mengapresiasi semangat para guru peserta program. Ia menyampaikan bahwa proses perkuliahan dilaksanakan secara fleksibel daring dan luring, serta diperkuat melalui diskusi kelompok yang aktif.
“Perkuliahan PKA dirancang secara kombinatif daring dan luring serta diperkuat dengan diskusi kelompok, juga seminar sehingga mendorong keterlibatan aktif peserta. Kami melihat para guru menjalani proses ini dengan semangat yang sangat baik,” jelas Ismah.
Ia juga menjelaskan salah satu keunggulan pembelajaran PKA di Universitas Muhammadiyah Jakarta, yaitu integrasi penulisan skripsi dengan mata kuliah Metodologi Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Pendekatan ini memungkinkan penelitian berangkat dari persoalan nyata di kelas dan langsung berkontribusi pada perbaikan pembelajaran.
Sementara itu, pengalaman para guru menunjukkan bahwa program ini menjawab kebutuhan nyata di lapangan. Vitasari, Guru TK Islam Lentera Hati Nurhasanah, Semarang, mengungkapkan bahwa meskipun tidak mudah membagi waktu antara mengajar, kuliah, dan keluarga, program ini membuka akses yang sebelumnya sulit dijangkau.
“Awalnya saya juga ragu. Tapi setelah dijalani, ternyata bisa. Jadi untuk Bapak/Ibu guru, jangan takut untuk mulai. Kesempatan ini sangat membantu kita untuk terus belajar dan berkembang,” ujar Vitasari.
Hal serupa disampaikan oleh Erin Riana Dewi, Guru SD Negeri Katulampa 2 Kota Bogor, yang merasakan bahwa pembelajaran dalam program ini dapat langsung diterapkan di kelas dan berdampak pada proses belajar siswa.
“Untuk para guru, mari kita manfaatkan program PKA ini. Jangan takut untuk belajar lagi. Kesempatan ini sangat berharga untuk meningkatkan kualifikasi dan kualitas kita sebagai pendidik,” ungkap Erin.
Kemendikdasmen juga mendorong keterlibatan aktif pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan pendidikan, termasuk dalam memastikan validitas data kualifikasi guru agar intervensi program dapat tepat sasaran.
Program PKA S1/D4 tidak hanya tentang melanjutkan pendidikan, tetapi juga memastikan setiap guru Indonesia memiliki bekal yang memadai untuk menghadapi tantangan pembelajaran di masa depan.
Melalui sinergi dan komitmen bersama, Kemendikdasmen optimistis program ini akan menjadi pengungkit nyata peningkatan kualitas pendidikan nasional dimulai dari ruang kelas, oleh guru yang terus belajar dan bertumbuh.