GTK - Ada satu hal sederhana yang sering terlupakan dalam kesibukan seorang guru, yakni guru juga perlu belajar.
Di tengah tuntutan menyiapkan pembelajaran, mengajar, menilai, mengurus administrasi, dan menghadapi beragam karakter murid, menyediakan waktu untuk belajar bersama sesama guru mungkin bukan perkara mudah. Namun, justru dari ruang-ruang belajar seperti itulah sering lahir perubahan yang bermakna.
Bagi Azwar Anas, S.Pd., Gr., guru matematika di Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe, Aceh, menjadi guru berarti bersedia untuk terus bertumbuh. “Seorang guru tidak boleh berhenti belajar,” demikian keyakinannya.
Bagi Anas (sapaan akrabnya), belajar bukan hanya tentang mengikuti pelatihan atau mempelajari teknologi terbaru. Guru juga perlu belajar dari murid, dari perubahan zaman, dari sesama guru, bahkan dari kearifan lokal yang ada di sekitarnya.
Itulah yang selama ini ia coba lakukan dalam pembelajaran matematika. Ia mengintegrasikan budaya Aceh dan teknologi Augmented Reality (AR) untuk membuat konsep-konsep matematika yang sering dianggap abstrak menjadi lebih dekat dan mudah dipahami murid.
Baginya, ketika seorang guru berusaha mencari cara agar pelajaran lebih menyenangkan dan bermakna bagi murid, sesungguhnya pada saat yang sama guru tersebut sedang belajar.
Berawal dari kebutuhan nyata guru
Dalam menjalankan kegiatan Hari Belajar Guru, Anas tidak memulainya dari pertanyaan, “Materi apa yang akan saya sampaikan?,” ia justru memulainya dengan pertanyaan yang lebih sederhana, yaitu “Apa yang sedang dibutuhkan guru?.”
Menurutnya, ruang belajar guru sebaiknya lahir dari persoalan nyata yang mereka hadapi. Bisa jadi tentang bagaimana pemanfaatan teknologi, membuat pembelajaran lebih menarik, mengelola kelas, atau menghadirkan budaya lokal ke dalam pembelajaran. Dari kebutuhan itulah kegiatan hari belajar guru dirancang. Sebuah forum untuk mencoba, berdiskusi, berbagi pengalaman, dan menemukan solusi bersama.
Sebab, guru sering kali tidak membutuhkan terlalu banyak teori. Mereka membutuhkan ruang untuk mengatakan, “Saya mengalami kesulitan ini. Apakah Bapak/Ibu juga pernah mengalaminya?” Lalu dari percakapan sederhana itu, lahirlah ide, dukungan, bahkan keberanian untuk mencoba.
Anas percaya bahwa komunitas belajar yang sehat bukanlah tempat untuk mencari siapa yang paling pintar. “Yang penting adalah rasa saling percaya dan keberanian untuk mengakui bahwa kita masih terus belajar,” ungkapnya.
Belajar tanpa merasa digurui
Salah satu hal menarik dari pendekatan Anas adalah caranya membangun suasana belajar yang setara. Ia tidak ingin hadir sebagai orang yang paling tahu. Ia memilih menempatkan dirinya sebagai sesama pembelajar.
Sebab, setiap guru sebenarnya membawa pengalaman dan pengetahuan dari kelasnya masing-masing. Ada guru yang mungkin belum mahir menggunakan teknologi, tetapi sangat pandai membangun kedekatan dengan murid. Ada yang belum mencoba banyak metode baru, tetapi memiliki cara sederhana yang terbukti membuat muridnya nyaman belajar. Semua pengalaman itu berharga.
Karena itu, kegiatan Hari Belajar Guru biasanya diisi dengan berbagai aktivitas. Guru diberi kesempatan berbagi praktik baik, berdiskusi tentang persoalan yang mereka hadapi, mencoba media atau teknologi pembelajaran, hingga melakukan refleksi bersama.
Dalam sesi eksplorasi teknologi misalnya, guru tidak hanya mendengarkan penjelasan tentang AR. Mereka diajak mencoba dan merasakan sendiri bagaimana teknologi tersebut dapat digunakan dalam pembelajaran. Dengan begitu, guru bisa pulang membawa pengetahuan serta pengalaman yang bisa dicoba di kelas.
Perubahan kecil yang menumbuhkan keberanian
Menurut Anas, salah satu dampak paling terasa dari kegiatan ini adalah tumbuhnya rasa percaya diri guru. Guru yang sebelumnya ragu untuk bertanya mulai berani menyampaikan pendapat. Guru yang awalnya enggan mencoba teknologi mulai memberanikan diri. Ada pula yang kemudian terdorong untuk mencari metode baru karena melihat bahwa perubahan kecil ternyata bisa membuat suasana belajar di kelas menjadi berbeda. Perubahan itu bukan hanya terlihat dari cara mengajarnya, tetapi juga dari ekspresi dan rasa percaya dirinya.
Ada pula seorang guru yang setelah mengikuti kegiatan langsung mengatakan bahwa ia mendapatkan ilmu baru dan sudah tidak sabar untuk menerapkannya di kelas keesokan harinya. Bagi Anas, kalimat sederhana itu sangat berarti, karena itulah tanda bahwa belajar tidak berhenti di ruang pelatihan.
Belajar benar-benar terjadi ketika sesuatu yang kita dapatkan hari ini mulai mengubah apa yang kita lakukan besok. Tidak perlu menunggu sempurna. Mungkin ada sekolah yang ingin membangun komunitas belajar guru, tetapi merasa belum memiliki fasilitas yang cukup, belum ada anggaran, belum punya narasumber, belum memiliki teknologi yang lengkap, atau merasa belum tahu harus memulai dari mana.
Pesan Anas sederhana, jangan menunggu sempurna untuk memulai. Hari Belajar Guru tidak harus diawali dengan kegiatan besar. Tidak harus dengan ruangan khusus atau konsep yang rumit, melainkan dimulai dari beberapa orang guru yang duduk bersama setelah jam belajar mengajar. Saling bercerita tentang kelas masing-masing. Berbagi satu praktik baik, membahas satu masalah yang sedang dihadapi, atau mencoba satu teknologi sederhana. Dari sesuatu yang kecil dan dilakukan secara konsisten, budaya belajar bisa tumbuh.
Untuk kepala sekolah, dukungan terbesar menurut Anas bukan kepada menyediakan berbagai fasilitas, melainkan memberikan kepercayaan dan ruang bagi guru untuk mencoba, termasuk ruang untuk salah dan gagal.
Karena guru yang takut salah akan sulit mencoba sesuatu yang baru. Sebaliknya, ketika guru merasa aman untuk bereksperimen, mencoba, mengevaluasi, dan mencoba kembali, di situlah pembelajaran sesungguhnya berlangsung.
Dari guru yang belajar, lahir murid yang ikut bersemangat
Pada akhirnya, Hari Belajar Guru bukan tentang seberapa banyak materi yang berhasil disampaikan dalam sebuah kegiatan, bukan pula tentang seberapa canggih teknologi yang diperkenalkan. Hari Belajar Guru adalah tentang menjaga nyala semangat seorang guru untuk terus bertumbuh.
Anas berharap kegiatan ini tidak berhenti sebagai agenda seremonial atau kegiatan satu kali. Ia ingin Hari Belajar Guru menjadi budaya yang hidup di setiap sekolah, sebuah ruang yang membuat guru merasa tidak sendirian dalam menghadapi tantangan pembelajaran.
Karena perjalanan menjadi guru memang tidak selalu mudah. Ada hari ketika kelas berjalan sesuai rencana. Ada pula hari ketika apa yang sudah dipersiapkan dengan baik ternyata tidak berhasil. Ada saat ketika guru merasa penuh energi, tetapi ada juga masa ketika semangat mulai menurun. Dalam situasi seperti itu, memiliki teman untuk belajar dan saling menguatkan menjadi sangat penting.
Dan mungkin, itulah makna terdalam dari Hari Belajar Guru: mengingatkan kita bahwa menjadi guru bukan berarti harus selalu tahu, tetapi harus selalu bersedia untuk belajar. Belajar dari murid, belajar dari rekan sejawat, belajar dari kesalahan, belajar dari perubahan zaman, dan belajar dari hal-hal sederhana yang ada di sekitar kita.
Karena ketika guru terus belajar dan bertumbuh, perubahan itu tidak akan berhenti pada dirinya. melainkan perubahan akan masuk ke ruang kelas, mengubah cara guru memandang murid, mengubah cara pembelajaran berlangsung, dan pada akhirnya, sampai kepada anak-anak yang setiap hari datang ke sekolah dengan harapan untuk menemukan sesuatu yang baru.
Mungkin kita tidak selalu bisa mengubah pendidikan dengan langkah besar. Tetapi kita bisa memulainya dengan satu guru yang mau belajar, satu guru yang mau berbagi, dan satu ruang yang membuat guru merasa bahwa ia tidak berjalan sendirian.
Dari sana, perubahan bisa tumbuh, pelan-pelan, sederhana, tetapi nyata.