GTK - Di tengah derasnya arus digitalisasi, cara belajar dan cara hidup anak-anak berubah dengan sangat cepat. Mereka tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan gawai, internet, dan teknologi cerdas. Perubahan ini menuntut guru untuk tidak hanya mengajar, tetapi juga beradaptasi. Bagi Leni Fitria Wati, S.Pd, guru SDN Balongsari 5 Kota Mojokerto, tantangan ini justru menjadi pintu untuk terus berkembang dalam menghadirkan pembelajaran yang relevan bagi murid-muridnya.

Salah satu langkah penting dalam perjalanan profesionalnya adalah mengikuti Program Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) melalui Lembaga Penyelenggara Diklat (LPD)  LIPMI Education Center, program yang ia sebut sangat sesuai dengan kebutuhan guru di era teknologi.

Menyiapkan Murid untuk Dunia yang Berubah Cepat

Menurut Ibu Leni, murid-murid saat ini hidup di dunia yang sarat teknologi. Cara mereka belajar, mencari informasi, hingga menyelesaikan masalah sudah banyak dipengaruhi oleh perkembangan digital. Karena itu, ia merasa perlu menyelaraskan praktik mengajar dengan realitas zaman.

Pelatihan KKA menjadi jembatan penting baginya untuk membekali murid dengan keterampilan abad 21, menumbuhkan kreativitas dan kemampuan memecahkan masalah, membangun literasi digital, serta mengenalkan murid pada etika dan batasan penggunaan kecerdasan artifisial.

Baginya, mengenalkan teknologi bukan soal ikut-ikutan tren, tetapi membentuk generasi yang bijak, aman, dan produktif dalam menggunakannya.

Pemahaman Baru Bahwa KKA Ternyata Dekat dan Sederhana

Selama mengikuti program, pemahaman Ibu Leni tentang KKA berkembang pesat. Ia menyadari bahwa konsep berpikir komputasional sebagai dasar dari koding dan kecerdasan artifisial sangat mungkin diajarkan melalui aktivitas sederhana dan kontekstual di kelas.

Ia mengembangkan integrasi KKA dalam berbagai mata pelajaran, seperti Bahasa Indonesia melalui pengajaran algoritma dalam teks prosedur, Seni rupa dengan mengenali pola pada teknik anyaman kertas, Permainan mencari harta karun untuk mengajak murid memahami konsep mesin cerdas dan non cerdas.

Selain itu, ia mendapat pemahaman baru tentang bagaimana mesin belajar mengolah data, mengenali pola, hingga membuat prediksi. Pengetahuan tentang keamanan data dan etika penggunaan kecerdasan artifisial menjadi poin penting yang ingin ia tularkan kepada murid.

Murid Merespons dengan Antusias, Seru, dan Menyenangkan

Setelah mencoba menerapkan KKA dalam pembelajaran, respons murid ternyata sangat positif. Mereka menikmati praktik sederhana yang relevan dengan kehidupan sehari-hari, aktivitas bermain sambil belajar, pengenalan komponen komputer, sampai penggunaan aplikasi kreatif seperti Canva untuk membuat poster.

Bagi murid, pembelajaran ini terasa seru dan modern. Bagi Ibu Leni, ini menjadi bukti bahwa teknologi bisa dihadirkan secara sederhana namun bermakna di sekolah dasar.

Perubahan Pola Pikir Dari Takut Koding Menjadi Makin Berani Berinovasi

Hal paling besar yang dirasakan Ibu Leni setelah mengikuti program ini adalah perubahan pola pikir.

Awalnya ia menganggap KKA adalah bidang yang rumit, penuh kode dan memerlukan perangkat khusus. Namun kini ia melihat bahwa KKA hadir dalam kehidupan sehari-hari dan dapat diajarkan secara kontekstual bahkan tanpa perangkat komputer (unplugged).

Ia kini lebih percaya diri merancang pembelajaran berbasis praktik, memfasilitasi diskusi, eksperimen, dan pemecahan masalah nyata bersama murid. Baginya, pembelajaran tidak lagi sekadar hafalan, melainkan proses untuk menumbuhkan kreativitas dan empati.

Program KKA Bermanfaat, Adaptif, dan Inspiratif

Secara keseluruhan, Ibu Leni menilai program KKA sangat baik. LMS memberi keleluasaan untuk belajar secara fleksibel, sementara sesi tatap muka memberikan penguatan dan inspirasi. Bertemu fasilitator dan sesama guru membuat konsep KKA yang rumit menjadi lebih mudah dan menyenangkan untuk diajarkan.

“Secara keseluruhan, program ini sangat baik karena memberi dampak yang positif terhadap peningkatan kompetensi guru. Pelatihan yang dilakukan melalui LMS memberikan keleluasaan bagi guru untuk belajar dimanapun dan kapanpun, serta adanya kegiatan IN atau tatap muka dengan fasilitator memberikan saya penguatan atas kegiatan belajar mandiri yang saya lakukan. Selain itu fasilitator juga memberikan saya banyak masukan mengenai bagaimana penerapan KKA dalam pembelajaran,” ujar Leni

Namun menurutnya, proses pendampingan tidak boleh berhenti ketika pelatihan selesai. Ia berharap ada monitoring dan komunitas belajar agar guru bisa terus berbagi solusi atas tantangan yang muncul di kelas.

Mengajar dengan Hati, Beradaptasi dengan Teknologi

Perjalanan Ibu Leni menunjukkan bahwa transformasi pendidikan tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi pada guru yang mau belajar, beradaptasi, dan menuntun murid dengan penuh empati.

Dengan semangat itu, ia tidak hanya mengajarkan Koding dan Kecerdasan Artifisial, tetapi juga membuka pintu masa depan bagi murid-muridnya. Masa depan yang cerdas, beretika, dan siap menghadapi dunia digital.