GTK Bagi Putu Yudi Darmawan, S.Pd., seorang guru di SMP Negeri 1 Sukasada, perjalanan mengikuti pelatihan Pembelajaran Mendalam (PM) bukan sekadar memenuhi undangan pelatihan. Ada keresahan yang selama ini ia simpan, tentang bagaimana cara agar murid-muridnya bisa belajar dengan baik. “Saya ingin murid belajar bukan hanya sebatas menghafal atau menyelesaikan tugas,” ujarnya dengan nada yang menunjukkan betapa pentingnya hal itu baginya.

Ketika ia membaca arah program pembelajaran mendalam dari Kemendikdasmen, Yudi, sapaan akrabnya, merasa seperti menemukan jawaban atas kegelisahan yang lama ia pendam. Konsepnya sangat dekat dengan apa yang saya rasakan selama mendampingi anak-anak di kelas,” tuturnya. Baginya, PM bukan hanya program, melainkan kebutuhan mendesak bagi guru masa kini untuk menciptakan pembelajaran yang lebih kontekstual, lebih manusiawi, dan lebih relevan.


Menyelami Esensi Pembelajaran Mendalam


Dari pelatihan pembelajaran mendalam, Yudi menangkap bahwa inti PM tidak terletak pada banyaknya teknik atau administrasi yang perlu disiapkan, melainkan pada pengalaman belajar yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. Ia kini memahami bahwa desain pembelajaran harus berangkat dari memberikan murid rasa nyaman dan siap untuk belajar. kemudian menyampaikan tujuan pembelajaran yang jelas, pengalaman belajar yang diberi ruang, dan bukti belajar yang autentik.


Sebagai acuan praktik pembelajaran, Yudi berpegang kepada dimensi profil lulusan, prinsip pembelajaran mendalam, pengalaman belajar, kerangka pembelajaran, dan asesmen yang ia dapatkan selama pelatihan. Hal ini sangat membantunya merangkum hal-hal besar menjadi fondasi yang mudah diterapkan.


Ketika Teori Bertemu Ruang Kelas


Putu Yudi bukan tipe guru yang menunda mencoba. Segera setelah mengikuti pelatihan, ia menerapkan Pembelajaran Mendalam di kelas. Pembelajaran dimulai dengan pemantik berbasis konteks lokal, sebuah cara untuk membuat murid merasa dekat dengan apa yang mereka pelajari. Prosesnya kemudian mengalir melalui dialog, eksplorasi, dan kolaborasi, lalu ditutup dengan sesi refleksi. 


Hasilnya?, ia mengaku terkejut sekaligus terharu. Murid-murid yang biasanya diam mulai berani bertanya. Murid yang kemampuan awalnya terbatas pun tetap bisa terlibat karena ada pendampingan yang dipersonalisasi. Yang paling ia rasakan adalah meningkatnya rasa ingin tahu. “Mereka jadi lebih penasaran,” katanya, sebuah capaian yang bagi seorang guru memiliki makna besar.