Di sebuah sudut sejuk Kota Batu, tepatnya di TK Negeri Pembina Kecamatan Bumiaji Kota Batu, Zidna Isnawati Fahima Dini, M.Pd menata ulang cara pandangnya tentang mengajar. Bagi Zidna, ruang kelas bukan sekadar tempat anak-anak bernyanyi dan mengerjakan lembar kerja. Di sanalah fondasi kehidupan sedang dibangun, pada masa yang ia sebut sebagai “Golden Age”, masa emas yang tak bisa diulang.

Mengajar Lebih dari Sekadar Mengisi Waktu

Motivasi Zidna mengikuti program Pembelajaran Mendalam yang diselenggarakan Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan (BBGTK) Jawa Timur lahir dari kegelisahan yang sederhana namun mendalam. Ia tidak ingin waktu belajar di kelas berlalu begitu saja. Ia ingin setiap permainan, setiap percakapan, setiap aktivitas kecil memiliki makna yang kuat bagi perkembangan kognitif dan karakter anak.

“Anak usia dini tidak cukup hanya diberi aktivitas. Mereka perlu pengalaman yang membekas,” tuturnya.

Baginya, tantangan terbesar adalah menghadirkan konsep seperti nalar kritis dan kreativitas dalam cara yang menyenangkan dan sesuai usia. Ia menyadari, pembelajaran yang terlalu berpusat pada lembar kerja sering kali membuat anak belum memahami proses. Pelatihan pembelajaran ini menurutnya, menjawab kebutuhan itu untuk membantu beralih dari pola teacher-centered menuju pembelajaran berbasis inkuiri dan pengalaman nyata.

Dari Instruksi Menuju Inkuiri

Selama pelatihan, Zidna merasakan pergeseran paradigma yang kuat. Ia memahami bahwa pembelajaran mendalam bukan tentang materi yang rumit, melainkan tentang memberi ruang eksplorasi.

Kini ia terbiasa menyusun pertanyaan terbuka (open-ended questions) yang memantik rasa ingin tahu anak. Ia belajar menahan diri untuk tidak buru-buru memberi jawaban. Ia merancang lingkungan main yang mengundang anak berpikir lebih kreatif dan mengaitkan pengalaman belajar dengan kehidupan sehari-hari.

“Saya dulu terlalu banyak memberi instruksi. Sekarang saya belajar memberi ruang,” tambahnya.

Ketika “Rumahku” Menjadi Laboratorium Kehidupan

Perubahan itu nyata ketika ia menerapkan proyek sederhana bertema Rumahku. Alih-alih meminta anak menggambar rumah di kertas, ia mengajak mereka membangun maket menggunakan bahan lepas seperti ranting, kardus bekas, batu, balok, hingga tutup botol.

Ia tidak memberi langkah-langkah rinci. Sebaliknya, ia melontarkan satu pertanyaan pemantik “Bagaimana ya caranya agar atap rumah ini tidak jatuh saat ditiup angin?”

Pertanyaan itu mengubah suasana kelas. Anak-anak berdiskusi, mencoba, gagal, lalu mencoba lagi. Bangunan roboh bukan lagi tanda kesalahan, melainkan bagian dari proses belajar.

Kebaruan metode ini terletak pada perubahan peran guru. Zidna tidak lagi menjadi pusat instruksi, melainkan fasilitator tantangan. Ia tidak membenarkan atau menyalahkan. Ia mengajak anak melakukan proses eksplorasi dan percobaan secara bertahap, menumbuhkan cara menyelesaikan masalah secara alami.

Respons murid luar biasa. Anak yang biasanya pasif terdorong untuk ikut aktif berdiskusi tentang bahan mana yang paling kuat untuk tiang. Mereka belajar tentang ketekunan tanpa sadar sedang dilatih. Kolaborasi tumbuh bukan karena perintah, tetapi karena kebutuhan.

Mindset yang Berubah, Kelas yang Menghidup

Dampak terbesar justru terjadi dalam dirinya sendiri. Jika dulu ia merasa cemas ketika kelas menjadi ribut atau hasil karya anak tak sesuai ekspektasinya, kini ia lebih tenang. Ia belajar percaya pada proses. Ia menyadari bahwa tugas guru bukan hanya mentransfer ilmu, melainkan memfasilitasi rasa ingin tahu. Ia mundur selangkah agar anak-anak bisa maju mengambil inisiatif.

Iklim kelas pun berubah. Komunikasi yang dulu satu arah kini menjadi dialog dua arah yang bermakna. Ia lebih peka mendengar pendapat sekaligus pilihan yang ingin diambil anak-anak dalam belajar. Ikatan emosional terasa lebih kuat. Anak-anak lebih berani mencoba, tidak takut salah, serta terlihat lebih nyaman dan bahagia.

“Rasa lelah mengajar berkurang. Setiap hari ada kejutan dari ide-ide mereka,” ujarnya dengan senyum.

Tantangan: Antara Proses dan Ekspektasi Instan

Namun perjalanan ini tidak tanpa hambatan. Tantangan terbesar datang dari ekspektasi orang tua yang masih berorientasi pada hasil akademis instan seperti membaca, menulis, berhitung (Calistung) secepat mungkin.

Pembelajaran berbasis bermain sering dianggap “hanya main-main”. Tekanan itu terkadang membuatnya ragu untuk sepenuhnya meninggalkan pendekatan lama. Ia menyadari perlunya strategi komunikasi yang lebih efektif untuk mengedukasi orang tua tentang pentingnya fondasi berpikir kritis dan karakter.

Ia berharap ada dukungan berupa materi parenting dan contoh portofolio dari sekolah lain yang berhasil meyakinkan orang tua bahwa pembelajaran mendalam justru mempersiapkan anak lebih matang untuk masa depan.

Harapan untuk Keberlanjutan

Secara keseluruhan, ia menilai program ini sangat bermanfaat dan relevan. Ia mengapresiasi keseriusan penyelenggara dalam merancang kurikulum yang sesuai kebutuhan guru masa kini. Meski demikian, ia mengakui durasi tugas mandiri terasa cukup padat di tengah tanggung jawab mengajar dan administrasi sekolah.

Namun satu hal yang pasti, pelatihan ini tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi mengubah cara pandangnya tentang anak dan proses belajar.

Di kelas kecil di Kota Batu itu, pembelajaran tidak lagi sekadar kegiatan rutin. Ia telah menjelma menjadi ruang hidup, tempat anak-anak belajar membangun rumah, sekaligus membangun ketekunan, keberanian, dan kepercayaan diri mereka sendiri.

 



Lihat dokumen disini