Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melalui Direktorat Jenderal Guru, Tenaga Kependikan dan Pendidikan Guru (GTKPG) menegaskan penajaman program prioritas peningkatan kompetensi guru dalam Konsolidasi Nasional (Konsolnas) 2026. Forum ini memaparkan capaian tahun 2025 sekaligus arah strategis tahun 2026 dalam penguatan Pembelajaran Mendalam, Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA), pengembangan Bahasa Inggris di Sekolah Dasar, Gerakan Numerasi Nasional, serta penguatan kompetensi Bimbingan Konseling (BK).
Direktur Guru Pendidikan Dasar dan Menengah Rachmadi Widdiharto menyampaikan bahwa implementasi Pembelajaran Mendalam sepanjang tahun 2025 menunjukkan capaian yang signifikan. Sebanyak 88 persen atau 186.160 pendidik dan tenaga kependidikan telah mengikuti pelatihan, terdiri atas 82.508 kepala sekolah yang disiapkan memimpin perubahan transformasi pembelajaran dan 133.351 guru yang telah menguasai pembelajaran berbasis pada murid.
“Pembelajaran Mendalam adalah fondasi transformasi pendidikan. Guru dan kepala sekolah tidak hanya mengajar, tetapi memimpin proses belajar yang bermakna, kontekstual, dan benar-benar berpihak pada murid,” tegasnya.
Ia menjelaskan, pada tahun 2026 implementasi Pembelajaran Mendalam akan diperluas dengan target tambahan sebesar 36 persen sehingga 50 persen satuan pendidikan telah menerapkannya, dengan target 100 persen pada tahun 2028. Pendekatan Teacher Experiment Training (TET) akan menjadi strategi utama dalam memastikan kualitas implementasi.
“Kami mendorong praktik nyata di kelas melalui siklus TET, dengan dukungan kuat pemerintah daerah dalam penyiapan fasilitator, pendampingan gugus, dan pelaporan capaian,” tambahnya.
Dalam Konsolnas 2026 juga disampaikan capaian program Koding dan Kecerdasan Artifisial pada tahun 2025 yang telah menjangkau 97 persen wilayah, mencakup 38 persen satuan pendidikan, dengan 53.023 guru terlatih. Namun demikian, masih terdapat tantangan pada aspek materi, kesesuaian kompetensi guru, serta pemerataan infrastruktur.
“Koding dan KA tidak bisa diseragamkan. Untuk SD diperlukan pendekatan unplugged yang sesuai dengan karakteristik siswa, sementara di jenjang SMP, SMA, dan SMK diperlukan penguatan kompetensi guru dan dukungan sarana prasarana,” ujar Direktur Guru Pendidikan Dasar dan Menengah.
Rachmadi menegaskan bahwa tahun 2026 akan difokuskan pada pembentukan kelompok kerja guru, pengelompokan wilayah, identifikasi sasaran, serta pengayaan materi agar pembelajaran Koding dan KA lebih kontekstual dan berdampak.
Di bidang numerasi, Gerakan Numerasi Nasional dengan pendekatan Matematika Gembira terus diperluas. Pada tahun 2025, program ini melahirkan 302 fasilitator Matematika Gembira, melatih 3.310 peserta dengan tingkat kelulusan 88 persen, serta telah mengembangkan Taman Numerasi berbasis kearifan lokal. Rencananya, tahun 2026 ini akan diselenggarakan Festival Taman Numerasi sebagai sarana apresiasi dan berbagi praktik baik.
“Numerasi harus hadir dalam kehidupan sehari-hari anak melalui pendekatan yang sederhana dan menyenangkan,” ujar Rachmadi .
Sementara itu, Direktur Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Putra Asga Elevri, menekankan bahwa transformasi pembelajaran harus berjalan seimbang dengan penguatan layanan pendampingan peserta didik. “Transformasi pendidikan tidak hanya soal peningkatan akademik dan teknologi, tetapi juga memastikan peserta didik mendapatkan pendampingan sosial-emosional yang memadai melalui layanan Bimbingan dan Konseling,” ujarnya.
Putra Asga menyampaikan bahwa sepanjang tahun 2025, program pengembangan kompetensi BK telah melatih 1.250 fasilitator nasional dan 16.513 fasilitator daerah melalui pendekatan 7 Jurus BK Hebat berbasis experiential learning.
“Melalui pendekatan ini, guru BK didorong untuk menghadirkan layanan yang relevan dengan kebutuhan nyata peserta didik di sekolah,” jelasnya.
Untuk tahun 2026, Asga berharap diseminasi program dapat menjangkau 270.000 guru sasaran, dengan proyeksi pada tahun 2029 menyentuh hingga 2,8 juta guru.
“Dukungan pemerintah daerah sangat krusial dalam penguatan Bimbingan Konseling, mulai dari koordinasi dengan Direktorat dan UPT, pengusulan peserta pelatihan, pemantauan On the Job Learning (OJL), hingga pelaksanaan diseminasi program di daerah. Hal ini agar dampak penguatan guru BK dapat dirasakan secara luas,” pungkasnya.
Konsolnas 2026 juga menegaskan arah kebijakan penguatan Bahasa Inggris di Sekolah Dasar. Bahasa Inggris direncanakan mulai menjadi mata pelajaran wajib pada tahun ajaran 2027/2028. Untuk mendukung kebijakan tersebut, Program Peningkatan Kompetensi Guru Sekolah Dasar Mengajar Bahasa Inggris (PKGSD MBI) terus diperkuat.
Pada tahun 2025, sebanyak 9.680 SD telah memiliki guru Bahasa Inggris dengan kompetensi sesuai ketentuan. “Peningkatan kompetensi guru menjadi kunci agar pembelajaran Bahasa Inggris di SD berjalan efektif dan menyenangkan,”ujar Rachmadi dalam forum tersebut.
Melalui Konsolnas 2026, pemerintah menegaskan komitmen mempercepat transformasi pendidikan dasar yang inklusif, adaptif, dan berkelanjutan, dengan sinergi kuat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan seluruh pemangku kepentingan pendidikan.
Dukungan dan Testimoni Guru
Antusiasme peserta terlihat dari berbagai organisasi profesi guru. Willem Murde, guru sekaligus kreator konten dari Maluku Tengah, mengaku terkesan dengan materi 7 Jurus Guru BK Hebat. “Dari tujuh jurus itu, setidaknya lima bisa langsung diterapkan oleh guru Non-BK. Saya akan menyebarkan materi ini melalui konten media sosial agar bermanfaat bagi guru lain,” ujarnya.
Sementara itu, Siti Lenawati dari Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) menyatakan bahwa 7 Jurus Guru BK Hebat merupakan pendekatan baru yang relevan. “Penerapannya tidak hanya untuk murid, tetapi juga dapat digunakan dalam interaksi antar sesama guru,” tuturnya.
Chandra Ubayanti dari Ikatan Guru Mata Pelajaran Matematika yang mengajar di SMA 1 Pakpak, Papua Barat, menilai Pembelajaran Mendalam menguatkan kembali tahapan esensial pembelajaran. “Pendekatan ini mengingatkan kami pada proses memahami, mengaplikasikan, dan merefleksikan, sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna bagi siswa,” ungkapnya.
Melalui berbagai program strategis ini, Kemendikdasmen menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat kapasitas guru sebagai fondasi utama transformasi pendidikan Indonesia.