Di tengah laju perkembangan teknologi yang kian pesat, Muhammad Hasyim, guru Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti di SMP Negeri 9 Samarinda Provinsi Kalimantan Timur, memilih untuk tidak diam. Baginya, perubahan bukanlah sesuatu yang harus ditakuti, melainkan disambut dengan kesiapan dan kemauan untuk belajar. Inilah yang mendorongnya mengikuti pelatihan Koding dan Kecerdasan Artifisial (KA), sebuah langkah yang ia yakini penting demi mempersiapkan murid menghadapi tantangan era digital.
Motivasi Hasyim sederhana namun bermakna, ia ingin meningkatkan kompetensi profesional sebagai guru sekaligus menghadirkan pembelajaran yang lebih relevan dengan kebutuhan zaman. Ia memandang pelatihan ini selain pengenalan teknologi, juga sebagai bekal untuk memanfaatkan Koding dan KA secara etis, bertanggung jawab, serta kreatif dalam proses pembelajaran. “Menurut saya materi yang disajikan terasa praktis dan aplikatif, sehingga dapat langsung diterapkan dalam perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi pembelajaran yang bermakna, berkesadaran, dan menyenangkan,” ujarnya.
Koding dan Kecerdasan Artifisial untuk Semua
Selama mengikuti pelatihan di Lokus 1 SMP Samarinda, pemahaman Hasyim tentang Koding dan KA semakin terbuka. Ia menyadari bahwa Koding dan KA tidak dimaksudkan untuk menggantikan mata pelajaran Informatika, melainkan melengkapinya. Bahkan ke depan, mata pelajaran ini dirancang bukan hanya mata pelajaran pilihan, tetapi jika memungkinkan dapat menjadi mata pelajaran wajib. Ia juga menangkap pesan penting bahwa koding dan KA bukan hanya milik guru yang mahir komputer atau sekolah dengan fasilitas lengkap. Pembelajaran dapat dilakukan dengan perangkat komputer (plugged) maupun tanpa perangkat komputer (unplugged), sehingga semua guru memiliki peluang yang sama untuk menerapkan dan mengeksplorasinya. Lebih dari sekadar keterampilan teknis, program ini menekankan penguatan berpikir komputasional, literasi digital, serta kemampuan memahami, menganalisis, bahkan menciptakan kecerdasan artifisial secara bertanggung jawab.
Dari Pelatihan ke Praktik di Ruang Kelas
Kesempatan untuk mempraktikkan ilmu pun tidak ia sia-siakan. Saat On the Job Training, Hasyim menerapkan materi berpikir komputasional, koding, hingga topik deepfake di kelas 8 Informatika. Respons murid-muridnya sangat menggembirakan. Antusiasme, rasa ingin tahu, dan motivasi belajar terlihat jelas, bahkan mereka meminta sesi lanjutan untuk mempelajari Koding dan KA. Pengalaman serupa ia rasakan ketika melakukan diseminasi melalui In House Training (IHT) bagi guru lintas mata pelajaran. Dengan mempraktikkan pembuatan Chatbot AI menggunakan aplikasi Pictoblox, para guru menunjukkan ketertarikan dan keinginan untuk pendalaman lebih lanjut.
Dampak yang Meluas dari Guru yang Terus Belajar
Dampak program ini tidak berhenti di ruang kelas. Dalam kesehariannya, Hasyim merasakan dorongan kuat untuk terus belajar. Ia bergabung dengan berbagai komunitas Koding dan KA, belajar secara mandiri melalui kanal YouTube, berdiskusi dengan rekan guru Informatika, serta mencoba berbagai aplikasi kecerdasan artifisial dengan beragam prompt. “Saya juga mencoba untuk mulai membuat aplikasi sederhana, seperti absen digital dan aplikasi pendukung program 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, dengan bantuan AI di Canva,” tambah Hasyim.
Menatap Masa Depan Pembelajaran Koding dan KA
Ke depan, ia bercita-cita mengembangkan aplikasi pembelajaran interaktif dan permainan edukatif. Di sekolahnya sendiri, Koding dan KA mulai diterapkan terintegrasi dengan Informatika.
Namun, Hasyim juga menyadari bahwa perjalanan ini tidak lepas dari tantangan. Keterbatasan guru dengan kualifikasi khusus Koding dan KA, pengaturan jam mengajar, serta fasilitas pendukung pembelajaran dengan perangkat komputer menjadi kendala utama. Untuk itu, ia berharap adanya dukungan berkelanjutan berupa diklat lanjutan khusus koding dan KA, penyediaan buku ajar, perangkat komputer, hingga perangkat robotik sebagai sarana belajar.
“Saya menilai program ini berjalan dengan sangat baik mulai dari IN-1, ON, IN-2 hingga tindak lanjut terasa menyenangkan dan bermakna. Tentunya keberhasilan program ini tidak lepas dari kemitraan dengan Pemerintah Daerah melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Samarinda, dukungan sarana dan prasarana UPTD Teknologi Komunikasi & Informasi Pendidikan Provinsi Kalimantan Timur, SMP Negeri 10 Samarinda, SMP Negeri 2 Samarinda dan SMP Kristen SUNODIA Samarinda serta komunitas belajar guru melalui Kelompok Kerja Guru (KKG) dan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Kota Samarinda. Saya juga berharap ke depan waktu pelatihan dapat lebih disesuaikan dengan program sekolah dan materi dibuat semakin spesifik dan aplikatif, serta dukungan anggaran pelatihan dapat terus dilanjutkan,” ujarnya.
“Belajar Koding dan KA bukan hanya soal teknologi. Ini adalah tentang keberanian guru untuk terus bertumbuh, agar sekolah tetap menjadi ruang belajar yang relevan, adaptif, dan mempersiapkan generasi masa depan dengan lebih baik,” pungkasnya.