GTK - Di sebuah sekolah menengah atas Dampal Utara, Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah, semangat perubahan tumbuh perlahan namun pasti. Dari ruang kelas SMA Negeri 1 Dampal Utara, Putri Ningsi A. Panontji, S.Pd., Gr., M.Pd, seorang guru dengan tekad kuat, memilih untuk terus melangkah maju, belajar, dan beradaptasi melalui pelatihan Koding dan Kecerdasan Artifisial (KA). Ia tidak ingin hanya menjadi penonton di tengah laju perkembangan teknologi saat ini.
Bagi Putri, mengikuti pelatihan ini bukan hanya untuk menambah sertifikat atau memenuhi tuntutan zaman. Ada motivasi yang lebih dalam, yakni keinginan untuk terus bertumbuh sebagai pendidik dan menghadirkan pembelajaran yang bermakna bagi murid-muridnya. “Saya ingin meningkatkan kompetensi digital dan profesionalisme sebagai guru,” tuturnya. Baginya, memahami koding dan kecerdasan artifisial adalah jembatan untuk menghadirkan pembelajaran yang relevan, kontekstual, dan adaptif. Sekaligus membekali murid dengan keterampilan abad ke-21 yang kelak akan mereka butuhkan.
Selama pelatihan, Putri merasakan materi yang disampaikan tersusun dengan rapi dan membumi. Konsep-konsep dasar seperti koding, berpikir komputasional, hingga pemanfaatan kecerdasan artifisial dalam pembelajaran disajikan secara bertahap, membuatnya lebih mudah dipahami. Meski ia menyadari bahwa penguasaan kompetensi koding dan ka ini masih memerlukan latihan dan pendalaman lebih lanjut, kepercayaan dirinya untuk mulai mencoba sudah tumbuh. Dari sinilah perubahan kecil mulai ia lakukan.
Sebagai guru mata pelajaran kimia, Putri mulai memperkenalkan logika berpikir komputasional melalui aktivitas yang sederhana namun bermakna. Ia mengajak murid merancang sebuah denah ruangan, mulai dari menggambar sampai menyusun melalui langkah-langkah berpikir sistematis layaknya sebuah algoritma. Murid diminta menuliskan prompt dengan pendekatan few shot, diawali contoh, lalu dilengkapi detail jumlah ruangan, kursi, meja, hingga posisi barang-barang di laboratorium. Dari rangkaian instruksi itu, mereka menjalankan prompt dan menyaksikan bagaimana kecerdasan artifisial menghasilkan gambar sesuai dengan yang mereka rancang. Di momen itulah, kecerdasan artifisial tidak lagi menjadi sesuatu yang asing atau menakutkan, melainkan alat belajar yang dekat dan menyenangkan. Antusiasme murid pun tumbuh; rasa ingin tahu mereka terpancing, dan pembelajaran terasa lebih hidup, kontekstual, serta selaras dengan dunia yang mereka kenal.
Dampak program ini tidak hanya berhenti pada perubahan metode mengajar di kelas. Putri juga merasakan transformasi dalam cara ia merancang pembelajaran secara menyeluruh. Ia mulai memanfaatkan kecerdasan artifisial untuk membantu menyusun perangkat pembelajaran yang selaras dengan pendekatan pembelajaran mendalam. Kecerdasan artifisial ia gunakan sebagai mitra berpikir dalam merancang media ajar interaktif, kuis, buku cerita, hingga visual dan gambar pendukung yang memperkaya pengalaman belajar murid.
Di sisi lain, ia juga membekali murid dengan keterampilan menyusun prompt yang tepat agar kecerdasan artifisial benar-benar membantu mereka menyelesaikan tugas secara mandiri dan bertanggung jawab. Dari sini, teknologi tidak lagi sekadar alat, tetapi menjadi jembatan untuk menumbuhkan kemandirian, kreativitas, dan cara berpikir kritis dalam proses belajar-mengajar.
Namun, perjalanan ini tentu terdapat tantangan. Perbedaan tingkat literasi digital murid serta belum terbentuknya budaya pembelajaran berbasis teknologi di sekolah menjadi kendala yang nyata. Putri menyadari bahwa perubahan tidak bisa dilakukan sendirian. Ia berharap ada dukungan yang lebih luas, mulai dari sosialisasi dan pembiasaan bertahap, penyediaan fasilitas pendukung, hingga kebijakan sekolah yang mendorong implementasi koding dan kecerdasan artifisial secara berkelanjutan.
Putri merasa bersyukur, program ini berjalan dengan baik, terstruktur, dan relevan dengan kebutuhan guru. Meski demikian, ia berharap ke depan ada lebih banyak porsi praktik langsung, pendampingan berkelanjutan, serta contoh penerapan yang lebih kontekstual sesuai dengan mata pelajaran yang diampu.
Kisah Putri Ningsi adalah potret nyata bagaimana sebuah program dapat menyalakan harapan bukan hanya bagi seorang guru, tetapi juga bagi murid-murid di daerah yang jauh dari hiruk-pikuk pusat teknologi. Dari Dampal Utara, ia membuktikan bahwa semangat belajar dan kemauan untuk berubah adalah kunci utama dalam menyiapkan generasi masa depan yang siap menghadapi dunia yang terus bergerak maju.