Jakarta, 11 Februari 2026 — Program Pertukaran Guru Indonesia-Korea (Indonesian-Korean Teacher Exchange/IKTE) tahun 2026 kembali dibuka. Program pertukaran bilateral ini memberikan kesempatan bagi guru Indonesia untuk mengajar dan mengikuti kegiatan pendidikan di sekolah-sekolah di Korea Selatan. Program ini tidak hanya meningkatkan kompetensi global para guru, tetapi juga memperkuat kesadaran budaya melalui berbagai metode pengajaran yang berfokus pada Pendidikan Kewarganegaraan Global (Global Citizenship Education/GCED) serta Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs).
IKTE merupakan kerja sama antara Direktorat Jenderal Guru, Tenaga Kependidikan, dan Pendidikan Guru (Ditjen GTKPG) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia dengan Asia-Pacific Centre of Education for International Understanding (APCEIU) UNESCO di bawah naungan Kementerian Pendidikan Korea Selatan.
Dalam sambutannya, Direktur Jenderal GTKPG, Nunuk Suryani menegaskan bahwa program pertukaran ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat kompetensi global guru Indonesia.
“Program IKTE bukan sekadar pertukaran mengajar, tetapi ruang pembelajaran bersama yang memperkaya wawasan, memperluas jejaring internasional, serta membangun perspektif global guru Indonesia. Kami berharap para peserta nantinya dapat menjadi agen perubahan di satuan pendidikan masing-masing,” ujar Nunuk.
Ia juga menambahkan bahwa penguatan nilai-nilai GCED dan SDGs menjadi bagian penting dalam transformasi pendidikan nasional. “Pengalaman lintas budaya akan memperkuat sensitivitas global guru sekaligus memperkaya praktik pembelajaran yang kontekstual dan relevan dengan tantangan zaman,” tambahnya.
Sekretaris Direktorat Jenderal GTKPG, Temu Ismail, dalam laporannya menjelaskan bahwa Program IKTE merupakan kerja sama bilateral di bidang pendidikan yang telah berlangsung sejak tahun 2013.
“Selama lebih dari satu dekade, IKTE telah menjadi jembatan kolaborasi pendidikan Indonesia dan Korea Selatan. Program ini dirancang tidak hanya untuk meningkatkan kapasitas profesional guru, tetapi juga mempererat hubungan antarbangsa melalui pendidikan,” jelas Temu.
Ia menyampaikan bahwa pada tahun 2026, guru-guru Indonesia yang terpilih akan mengikuti program selama tiga bulan, yang direncanakan berlangsung pada Agustus hingga November 2026. “Kami mendorong para guru untuk memanfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin karena program ini membawa banyak manfaat,” ujarnya.
Webinar sosialisasi turut menghadirkan Nissa Afriliana selaku Penanggung Jawab Kerja Sama Setditjen GTKPG. Dalam paparannya, Nissa mengingatkan seluruh calon pendaftar agar memastikan seluruh persyaratan diunggah secara lengkap dan sesuai ketentuan pada sistem pendaftaran.
“Ketelitian dalam melengkapi dokumen menjadi salah satu kunci utama dalam tahapan seleksi administrasi. Pastikan seluruh berkas telah sesuai dengan persyaratan dan diunggah sebelum batas waktu pendaftaran,” tegas Nissa.
Ia juga menjelaskan skema pertukaran kedua negara. “Dalam program ini, guru Korea akan tinggal di Indonesia selama kurang lebih enam bulan termasuk pelatihan penyesuaian lokal, sementara guru Indonesia akan berada di Korea Selatan selama kurang lebih tiga bulan termasuk program orientasi dan adaptasi budaya,” jelasnya.
Dari sisi teknis, Aknanta Akmal dari tim pengembang aplikasi memaparkan mekanisme pendaftaran dan tahapan seleksi melalui sistem daring yang telah disiapkan.
“Sistem pendaftaran dirancang untuk memudahkan peserta dalam mengunggah dokumen dan memantau status seleksi secara berkala. Kami menyarankan pendaftar tidak menunggu hingga hari terakhir untuk menghindari kendala teknis,” terang Aknanta.
Ia juga menambahkan bahwa tersedia panduan penggunaan sistem yang dapat diakses oleh seluruh calon peserta. “Jika mengikuti petunjuk dengan cermat, proses pendaftaran akan berjalan lancar,” ujarnya.
Webinar ini juga menghadirkan Anief Arzuani, Alumni IKTE 2024 yang ditempatkan di Bullo Elementary School, Gwangju, Korea Selatan. Ia berbagi pengalaman mengenai budaya open class di Korea, yaitu forum berbagi praktik baik antar guru.
“Di Korea, guru yang memiliki metode pembelajaran efektif akan membuka kelasnya untuk diobservasi guru lain. Bahkan ada event open class berskala besar dengan banyak kelas dan beragam praktik baik. Para guru bisa langsung memilih kelas yang ingin diikuti dan fokus pada pembelajaran tanpa seremoni panjang,” jelas Anief.
Anief mengaku merasakan perubahan pola pikir setelah mengikuti program IKTE, “Program ini benar-benar mengubah cara pandang saya terhadap pembelajaran. Saya belajar tentang disiplin, kolaborasi, dan bagaimana inovasi kecil di kelas bisa berdampak besar bagi siswa,” ungkapnya.
Ia pun mendorong rekan-rekan guru di Indonesia untuk tidak ragu mendaftarkan diri. “Ikuti setiap tahapannya dengan sungguh-sungguh dan tunjukkan talenta terbaik yang kita miliki. Kesempatan ini sangat berharga untuk pengembangan diri dan sekolah kita,” pesannya.
Pendaftaran Program IKTE 2026 dibuka mulai 2 Februari hingga 2 Maret 2026. Program ini diperuntukkan bagi guru jenjang SD, SMP, SMA, dan SMK non-kejuruan yang berada di 32 provinsi/kabupaten/kota sasaran.
Melalui penyelenggaraan IKTE 2026, Ditjen GTKPG berharap semakin banyak guru Indonesia yang memiliki pengalaman global, jejaring internasional, serta mampu menjadi agen perubahan dalam menghadirkan pembelajaran yang berorientasi pada nilai-nilai global dan pembangunan berkelanjutan di satuan pendidikan.