Jakarta 25 Februari 2026, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Direktorat Jenderal Guru, Tenaga Kependidikan, dan Pendidikan Guru (GTKPG) menyelenggarakan Webinar Sapa GTK Episode 1 dengan tema: “Tes Kemampuan Akademik (TKA): Peran Guru & Pemanfaatannya di Jenjang SD – SMP” . Kegiatan ini menjadi ruang sosialisasi sekaligus dialog interaktif bagi guru, kepala sekolah, dan tenaga kependidikan menjelang pelaksanaan TKA yang dijadwalkan pada bulan April mendatang.
Webinar dibuka oleh Direktur Jenderal GTKPG, Nunuk Suryani, yang menegaskan bahwa TKA merupakan bagian dari strategi peningkatan mutu pembelajaran secara berkelanjutan. Dalam sambutannya, ia mengingatkan bahwa TKA bukan untuk menilai kinerja guru atau sekolah, melainkan sebagai instrumen pemetaan capaian belajar peserta didik.
“TKA adalah instrumen refleksi bersama. Data yang dihasilkan akan menjadi dasar perbaikan pembelajaran dan penyusunan kebijakan yang lebih tepat sasaran,” ujarnya. Ia juga mengajak seluruh satuan pendidikan untuk menyambut pelaksanaan TKA dengan semangat peningkatan mutu bukan dengan kekhawatiran atau persepsi yang keliru.
Kepala Pusat Asesmen Pendidikan, Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (Pusmendik BSKAP), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Rahmawati, memaparkan desain dan mekanisme pelaksanaan TKA untuk jenjang SD dan SMP sederajat. Ia menjelaskan bahwa asesmen ini mengukur kompetensi esensial seperti literasi dan numerasi, serta dirancang bersifat diagnostik dan agregatif.
“Substansi kebijakan TKA adalah pemetaan capaian kompetensi peserta didik pada aspek-aspek esensial yang menjadi fondasi pembelajaran. TKA tidak dirancang untuk menilai individu guru atau memberi peringkat sekolah, melainkan untuk menyediakan data yang objektif sebagai dasar refleksi dan perbaikan pembelajaran secara berkelanjutan,” jelasnya.
Pada jenjang SD dan SMP hasil TKA diharapkan dimanfaatkan secara konstruktif oleh sekolah. Perencanaan berbasis data dalam penyusunan program sekolah terutama pada penguatan literasi dan numerasi menjadi lebih terarah, lanjutnya.
Webinar juga menghadirkan testimoni praktik baik dari SMAN 6 Yogyakarta, sekolah dengan capaian TKA terbaik di tingkat SMA. Sri Moerni, Kepala SMAN 6 Yogyakarta, membagikan pengalaman tentang pentingnya membangun budaya belajar yang konsisten dan kolaboratif.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan TKA bukan hasil persiapan sesaat menjelang tes, melainkan buah dari proses pembelajaran yang berkualitas setiap hari. Penguatan literasi dan numerasi dilakukan secara lintas mata pelajaran, dengan melibatkan seluruh guru dalam budaya refleksi berbasis data.
Berdasarkan pengalamannya menghadapi TKA, Sri Murni berpesan “Jangan jadikan TKA sebagai beban, tetapi sebagai cermin. Bangun budaya belajar yang positif di sekolah, dorong kolaborasi antar guru, peserta didik, orang tua dan fokus pada proses. Ketika proses pembelajaran kita kuat dan konsisten, hasil asesmen akan mengikuti.”
Melalui Webinar Sapa GTK Episode 1 tentang Sosialisasi TKA untuk jenjang SD dan SMP ini, Kemendikdasmen berharap seluruh satuan pendidikan memiliki pemahaman yang sama bahwa TKA adalah instrumen peningkatan mutu, bukan alat penilaian kinerja. Dengan komunikasi yang jelas dan kolaborasi yang solid, pelaksanaan TKA di jenjang SD dan SMP diharapkan menjadi langkah nyata menuju transformasi pendidikan yang lebih bermutu dan berkelanjutan.